Acara Mengenang Jurnalis Palestina yang Gugur dalam serangan Penjajah ‘Israel’ Digelar di London

SALAM-ONLINE.COM: Ratusan orang berkumpul di London untuk mengenang para jurnalis Palestina yang gugur dalam serangan teroris “Israel” di Gaza. Acara mengenang jurnalis Palestina ini digelar di depan Kantor Perdana Menteri Inggris di Downing Street pada Rabu (27/8/2025).

Peringatan yang diselenggarakan oleh Cabang Freelance Persatuan Jurnalis Nasional (NUJ) ini dihadiri oleh para peserta yang membawa spanduk bertuliskan nama-nama jurnalis yang gugur dalam serangan teroris zionis “Israel” tersebut.

Menjelang acara peringatan, para pengurus NUJ mengirimkan surat ke Downing Street No. 10 (Kantor Perdana Menteri), yang berisi harapan mereka kepada pemerintah Inggris terkait kematian tersebut.

Berbicara di acara tersebut, mantan presenter BBC dan LBC Sangita Myska menyoroti kematian koresponden Al Jazeera Anas Al-Sharif di Gaza.

Ia mengatakan bahwa Al-Sharif adalah “seorang jurnalis penting bagi pemirsa”, mengingat, bahwa meskipun terdaftar sebagai jurnalis berisiko mati oleh Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ), ia dibiarkan tanpa perlindungan dan dibunuh pada 10 Agustus lalu oleh pasukan teroris zionis.

“Pemerintah tidak mengatakan atau melakukan apa pun tentang hal ini,” kata Myska. Menurutnya, “Israel” telah secara tidak beralasan melabeli Al-Sharif sebagai “teroris” dan menekankan bahwa ‘Israel’ masih terus membidik jurnalis”.

Myska menggambarkan jurnalis Palestina sebagai “orang-orang paling berani di dunia”. Ia mengatakan, “Mereka (jurnalis Palestina) terus bekerja meskipun ada serangan dan ancaman teroris ‘Israel’. Namun Barat meremehkan profesi mereka.”

Ia juga merujuk pada lima jurnalis yang gugur dalam serangan pasukan teroris zionis baru-baru ini di Rumah Sakit Nasser. Kelima jurnalis itu bekerja untuk sejumlah media internasional besar, termasuk Reuters, The Associated Press, Middle East Eye dan Al Jazeera.

“Israel, sebagaimana organisasi teroris, melakukan serangan kedua terhadap mereka yang tiba di lokasi kejadian setelah serangan pertama,” katanya.

Baca Juga

Myska mengkritik liputan media internasional, dengan mengatakan: “Jika Rusia membunuh lima jurnalis dalam siaran langsung, apakah menurut Anda media Inggris akan mengabaikannya? Saya rasa tidak.”

Menurut Myska, seorang jurnalis Palestina yang terbunuh bukan hanya kematian satu orang — melainkan kematian jurnalisme.”

Jurnalis Palestina Ahmad Alnaouq mengatakan: “Mengapa ‘Israel’ membunuh jurnalis? Karena ia bisa. Karena ia tahu ia tidak akan bertanggung jawab kepada siapa pun. Karena kenyataan adalah musuh terbesarnya. Selama tidak ada yang menentang mereka, sayangnya, ‘Israel’ akan terus membunuh warga Palestina.”

“Para jurnalis Palestina yang terbunuh tidak akan dilupakan; kisah mereka akan terus diceritakan, dan kami akan meneriakkan nama mereka,” lanjutnya.

Peringatan itu diakhiri dengan pembacaan nama-nama jurnalis yang gugur dan doa terhadap jurnalis terbunuh yang dilakukan secara in absentia.

Korban jiwa terbaru di kalangan awak media di Gaza menjadikan jumlah jurnalis Palestina yang dibunuh dalam serangan “Israel” sejak Oktober 2023 menjadi 246 orang.

Sampai saat ini teroris “Israel” telah membunuh lebih dari 62.700 warga Palestina di Gaza sejak Oktober 2023. Serangan militer telah menghancurkan wilayah kantong tersebut, yang kini menghadapi perbuatan penjajah membuat lapar warga Gaza.

November 2024 lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri penjajah Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanannya, Yoav Gallant, atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Penjajah “Israel” juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional atas perang yang dilakukannya di wilayah kantong tersebut. (mus)

Baca Juga