Kontradiktif! Netanyahu Perintahkan Perundingan Segera untuk Bebaskan Sandera dan Akhiri Perang, Tapi Mau Duduki Gaza
SALAM-ONLINE.COM: Perdana Menteri penjajah Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa ia memerintahkan dilakukannya perundingan segera untuk mengamankan pembebasan semua sandera yang ditawan di Gaza dan mengakhiri perang — meskipun ia menyetujui rencana untuk menduduki Kota Gaza.
Pengumuman tersebut nampak kontradiktif, muncul beberapa hari setelah Hamas menerima proposal Mesir-Qatar untuk membebaskan sekitar separuh sandera dengan imbalan gencatan senjata 60 hari dan perundingan menuju gencatan senjata permanen. Kontradiktifnya, menyetujui gencatan senjata permanen (mengakhiri perang), itu bertentangan dengan tujuan “Israel” untuk menduduki Kota Gaza, yang berarti mengajak perang lagi.
“Saya datang untuk menyetujui rencana tentara untuk menguasai Kota Gaza dan memutuskan pertempuran melawan Hamas,” kata Netanyahu dalam pernyataan yang disiarkan oleh Channel 12 “Israel” saat berkunjung ke Divisi Gaza militer, Kamis (21/8/2025).
“Pada saat yang sama, saya menginstruksikan perundingan segera untuk pembebasan semua sandera kami dan untuk mengakhiri perang dengan syarat-syarat yang dapat diterima oleh Israel.”
“Israel” memperkirakan Hamas menyandera sekitar 50 orang, termasuk 20 orang yang diyakini masih hidup. Sementara lebih dari 10.800 warga Palestina dipenjara pihak penjajah di tengah tuduhan kelompok hak asasi manusia atas penyiksaan dan pengabaian medis terhadap tahanan Palestina tersebut.
“Kita berada dalam tahap yang menentukan, dan saya sangat menghargai respons pasukan cadangan dan tentara reguler untuk misi vital ini,” kata Netanyahu, yang mengklaim bahwa mengalahkan Hamas dan membebaskan semua tawanan “berjalan beriringan”.
Ini adalah pertama kalinya Netanyahu secara langsung membahas potensi kesepakatan pertukaran sejak Hamas mengumumkan penerimaannya atas proposal Mesir-Qatar.
Media “Israel” mengatakan rencana tersebut melibatkan pengerahan kembali pasukan penjajah itu ke daerah-daerah dekat perbatasan untuk memungkinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza, bersama dengan jeda pertempuran selama 60 hari.
Selama masa tersebut, pertukaran akan berlangsung dalam dua tahap: membebaskan 10 sandera “Israel” hidup-hidup dan 18 jenazah sebagai imbalan atas bebasnya tahanan Palestina, dan memulai perundingan tentang de-eskalasi permanen sejak hari pertama.
Pada Rabu (20/8), Menteri Pertahanan penjajah, Israel Katz, menyetujui rencana militer yang dijuluki “Kereta Perang Gideon 2” untuk merebut Kota Gaza meskipun ada upaya mediasi. (ib)
