Genosida Gaza dengan Kendali Jarak Jauh, Pasukan Penjajah Kerahkan Robot Peledak

Kendaraan perang “Israel” yang membawa bahan peledak, kemungkinan pengangkut personel lapis baja M113, terlihat di Gaza (X)

SALAM-ONLINE.COM: Hamza Shabaan terbangun di udara. Ledakan dahsyat telah melemparkannya dari kasur, membuatnya kehilangan arah dan terkejut.

Di luar, sebuah “robot” penjajah “Israel” yang dikendalikan dari jarak jauh dan bermuatan bahan peledak merayap di jalanan Kota Gaza, menebar teror.

“Saya melihat ke luar jendela untuk melihat di mana robot itu berada, apakah di samping saya atau di dekat saya,” kata Shabaan (35 tahun), kepada Middle East Eye, (MEE), Sabtu (6/9/2023).

“Ternyata robot itu berjarak sekitar 100 meter.”

Kemudian ledakan lain terjadi, membuat Shabaan terlempar 2 meter dari jendela.

“Saya mulai merangkak dengan tangan dan lutut, menuju ruang tamu,” kenangnya.

“Saya bisa mendengar suara pecahan peluru dan puing-puing menghantam semusnya, suara-suara yang mengerikan.”

Apa yang dialami Shabaan itu semakin umum terjadi bagi warga Palestina di Kota Gaza saat ini.

Sejak zionis “Israel” mengumumkan bulan lalu, penjajah tersebut
akan memperluas serangannya ke kota yang kini dihuni hampir satu juta orang itu. Ledakan-ledakan besar telah mengguncang wilayah tersebut hampir setiap malam.

Baca Juga

Inti dari gelombang kekerasan baru ini adalah taktik medan perang terbaru “Israel”: kendaraan-kendaraan yang dikendalikan dari jarak jauh dan penuh bahan peledak.

Alih-alih mengerahkan pasukan di darat, militer penjajah justru mengirim kendaraan pengangkut personel lapis baja (APC) yang telah dinonaktifkan ke daerah permukiman padat penduduk.

APC, yang sarat dengan bahan peledak berton-ton itu, diarahkan dari jarak jauh ke permukiman dan kemudian diledakkan, menyebabkan kerusakan yang meluas.

Dalam beberapa kasus, kendaraan-kendaraan ini menjatuhkan barel peledak di sepanjang jalan dan meledakkannya secara bersamaan, memaksimalkan kerusakan di seluruh blok.

“Ledakan biasanya dimulai tepat ketika Anda sedang mencoba tidur, sekitar pukul 10 atau 11 malam,” kata Shabaan. Ia menambahkan bahwa delapan hingga sepuluh ledakan dapat terdengar setiap malam.

“Ledakan itu sangat dahsyat. Mereka menghancurkan seluruh bangunan hingga menjadi puing-puing,” katanya.

Robot peledak mengubah malam Kota Gaza menjadi siang. Malam yang berat dengan ledakan dahsyat di Gaza.

Meskipun Shabaan mengalami banyak perang “Israel” di Gaza dan menyaksikan langsung kehancuran yang disebabkan oleh jet tempur F-16, robot ini berada di level yang berbeda.

“Tak ada yang sebanding dengan robot-robot ini,” tuturnya. “Mereka jauh lebih dahsyat daripada serangan udara.” (is)

Baca Juga