UBN Laporkan Kondisi Relawan Sumud Flotilla dan Serangan Drone di Perairan Tunisia

SALAM-ONLINE.COM: Ketua Steering Comittee Global Peace Convoy Indonesia, Ustaz Bachtiar Nasir (UBN), mengungkap adanya serangan terhadap kapal Yusuf Omar. Kapal yang berlayar dari Spanyol menuju Port Said itu ditembaki drone yang diduga milik “Israel” saat melintas di perairan Tunisia.
Menurut perwakilan Indonesia dalam Armada Global Sumud Flotilla (GSF) ini, serangan tersebut merupakan upaya intimidasi terhadap gerakan GSF yang tengah bersiap berlayar menuju Gaza. Armada GSF berangkat untuk membawa bantuan kemanusiaan ke Palestina melalui jalur laut.
“Kalau sekarang mereka berani menembak di perairan Tunis, tentu semakin dekat ke Gaza potensi serangan bisa lebih agresif,” kata UBN, Selasa (9/2025) di Tunis.
UBN menjelaskan kondisi sebagian relawan GSF saat ini tidak baik. Cuaca ekstrem Tunisia yang mencapai 34–35 derajat dengan kelembapan tinggi membuat beberapa relawan jatuh sakit, terutama mahasiswa yang tidak terbiasa dengan iklim panas. Ia pun mengimbau relawan untuk menjaga kesehatan.
“Saya berharap tim Indonesia minum vitamin dan tidak keluar di siang hari dulu,” ujar UBN.
Selain itu, keterbatasan logistik semakin memperburuk keadaan. Sejumlah relawan yang berangkat secara mandiri dilaporkan mulai kehabisan bekal. Bahkan, beberapa panitia dan peserta GSF tidak bisa menyewa tempat tinggal karena minimnya dana dan logistik yang dibawa.

UBN menegaskan, dari seluruh kedutaan besar di Tunis, hanya Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) yang secara terbuka memberikan dukungan dan bantuan kepada para delegasi.
Untuk menghadapi tekanan fisik maupun psikis, Indonesia Global Peace Convoy telah menyiapkan buku panduan spiritual, tata cara ibadah, serta analisis skenario terburuk selama pelayaran.
Delegasi Indonesia di Tunisia berjumlah 67 orang. Sebanyak 33 orang di antaranya akan ikut berlayar menuju Jalur Gaza. Mereka bergabung dalam Global Sumud Flotilla yang menyiapkan 65 unit kapal dari berbagai negara.
Perinciannya, sebanyak 24 unit dari Spanyol, 21 unit dari Tunisia, 18 unit dari Italia, dan dua unit dari Yunani. Beberapa kapal tambahan diketahui masih dalam proses pembelian. []