Trump Klaim tak Tertarik dengan Tawaran Gencatan Senjata, Iran Bantah Cari Jalan Keluar dari Perang

SALAM-ONLINE.COM: Presiden AS Donald Trump mengatakan tidak tertarik dengan tawaran Iran untuk bernegosiasi. Trump menyatakan pada Sabtu (21/3/3/2026) bahwa Iran menawarkan kesepakatan kepadanya.
“Mereka ingin membuat kesepakatan. Saya tidak,” tulis Trump di platform media sosialnya, Truth Social. Trump pun mengklaim bahwa pihaknya telah mencapai tujuan militernya “beberapa minggu lebih cepat dari jadwal”. “AS telah menghancurkan Iran,” klaimnya.
Ia mengatakan kepemimpinan, angkatan laut dan angkatan udara Iran telah dilenyapkan dan Teheran “sama sekali tidak memiliki pertahanan”.
Pernyataan tersebut muncul setelah Trump mengatakan pada Jumat (20/3) bahwa Washington sedang berupaya melakukan pembicaraan dengan Iran, tetapi, klaimnya, “tidak ada yang bisa diajak bicara” setelah serangan selama beberapa pekan, yang menurutnya telah menghancurkan kepemimpinan Iran.
Sebelumnya Trump mengatakan Iran menghubungi dan ia setuju untuk bernegosiasi, tetapi Iran “belum siap”.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sendiri menolak anggapan bahwa Teheran sedang mencari jalan keluar dari perang. Sebelumnya dia mengatakan bahwa Iran “tidak pernah meminta gencatan senjata” dan “siap untuk membela diri selama diperlukan”.
Trump awalnya menyatakan serangan tersebut akan berlangsung selama empat hingga lima minggu, sebuah jangka waktu yang kemudian ia ubah, dengan mengatakan bahwa operasi berjalan “lebih cepat dari jadwal”, meskipun pada Jumat ia mengatakan sedang mempertimbangkan untuk “mengakhiri” serangan militer tersebut.
Serangan AS-“Israel” terhadap Iran dimulai pada 28 Februari dan dilaporkan telah menewaskan 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.
Teheran telah membalas dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan “Israel”, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Serangan Iran itiu mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.
Empat belas anggota militer AS telah tewas sejak awal serangan tersebut. (Ib)