Erdogan Tegaskan Komitmen Negaranya Dukung Kedaulatan Suriah, Gaza & Lebanon demi Stabilitas Kawasan

SALAM-ONLINE.COM: Presiden Recep Tayyip Erdoğan melakukan wawancara dengan Al-Jazeera Arabic di tengah peringatan hari jadi ke-25 Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Party) serta upaya pemimpin Turki tersebut untuk memperkuat pengaruhnya di kawasan yang lebih luas.
Wawancara yang dijadwalkan tayang pada Ahad (16/8/2026) malam itu membahas berbagai isu regional serta peran Turki di tengah ketegangan yang melanda Timur Tengah. Terkait Kesepakatan Pertahanan Bersama Makkah yang ditandatanganinya bersama Arab Saudi dan Pakistan pada 7 Agustus lalu, Erdoğan mengisyaratkan kemungkinan Mesir untuk turut bergabung dalam pakta tersebut. Presiden juga menegaskan kembali komitmen Ankara terhadap stabilitas Lebanon, Suriah, dan Gaza, sembari memberi sinyal kemungkinan ia akan mengunjungi Suriah dalam waktu dekat—dua tahun setelah tumbangnya rezim Baath akibat revolusi rakyat.
Di bawah kepemimpinan Erdoğan, Turki telah beralih untuk memainkan peran yang lebih besar di Timur Tengah, kawasan yang memiliki ikatan warisan sejarah bersamanya. Selama dua dekade terakhir, Turki telah bertransformasi menjadi aktor diplomatik kunci, bukan sekadar penonton pasif.
Kesepakatan Pertahanan Bersama Makkah—yang ditandatangani Erdoğan di tempat kelahiran Islam bersama Putra Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman dan Perdana Menteri Pakistan Shahbaz Sharif—merupakan salah satu buah dari meningkatnya profil diplomatik Turki.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, ketiga negara berencana membentuk mekanisme politik dan militer strategis yang melibatkan menteri pertahanan dan menteri luar negeri mereka, serta kepala staf umum atau panglima angkatan bersenjata masing-masing. Kerja sama militer diharapkan akan berkembang secara bertahap, dimulai dengan latihan pos komando dan latihan lapangan, sebelum berlanjut ke latihan gabungan yang melibatkan matra darat, laut, dan udara, serta aset pertahanan udara dan sistem nirawak.
Salah satu poin penting dari kesepakatan ini adalah bahwa serangan terhadap salah satu pihak akan dianggap sebagai serangan terhadap semua pihak. Para penandatangan menepis anggapan bahwa kesepakatan ini merupakan ancaman bagi negara-negara kawasan lainnya. Sejak penandatanganan tersebut, para pejabat Turki—terutama Menteri Luar Negeri Hakan Fidan—telah menegaskan bahwa pakta ini terbuka untuk diperluas.
Mesir, yang merupakan aktor kunci lainnya di kawasan ini, muncul dalam berbagai spekulasi mengenai potensi perluasan keanggotaan tersebut. Erdoğan mengonfirmasi hal ini dalam wawancaranya dengan Al-Jazeera Arabic, dengan menyatakan bahwa Kairo dapat bergabung dengan mereka. “Kesepakatan ini telah mengirimkan pesan penting kepada dunia,” demikian kutipan pernyataan Erdoğan.
Ketiga negara yang terlibat dalam kesepakatan pertahanan ini telah mempererat hubungan mereka dalam beberapa tahun terakhir. Kesepakatan ini, sampai batas tertentu, merupakan bagian dari visi Turki untuk memperkokoh persatuan di antara negara-negara Muslim. Erdoğan sendiri telah berulang kali menekankan pentingnya mewujudkan persatuan tersebut, terutama dalam menghadapi kebijakan ekspansionis “Israel” yang kian menyasar banyak negara di kawasan ini. Dalam sebuah pidato, Erdoğan bahkan sempat mengisyaratkan bahwa Turki bisa saja menjadi target berikutnya bagi rezim penjajah “Israel” yang melakukan genosida itu.
Presiden menegaskan bahwa Türki tidak akan meninggalkan negara-negara tetangganya, terutama di tengah gejolak kawasan. Terkait Suriah, ia menyatakan bahwa pihaknya sedang berupaya maksimal untuk mendukung kedaulatan dan stabilitas di era pasca-Assad. Ia juga mengumumkan rencananya untuk mengunjungi Suriah. Erdoğan sebelumnya telah mengisyaratkan niat untuk mengunjungi negara tersebut. Jika terlaksana, ini akan menjadi kunjungan pertamanya ke Suriah sebagai presiden.
Türki menjalin hubungan baik dengan tetangga selatannya, Suriah, menyusul tergulingnya rezim Baath pada Desember 2024. Sebagian besar menteri Turki, termasuk Fidan, telah mengunjungi Damaskus dalam dua tahun terakhir. Duta Besar Turki untuk Suriah, Nuh Yılmaz, juga mengonfirmasi rencana kunjungan Erdoğan dalam sebuah wawancara dengan Al-Jazeera pada Sabtu (15/8).
“Kami berharap presiden kami akan berada di Damaskus sebelum akhir tahun ini,” ujar Yılmaz, seraya menambahkan bahwa Erdoğan sangat menyukai Damaskus dan Masjid Umayyah yang menjadi ikon kota tersebut. “Melihat Bapak Erdoğan dan Bapak (Presiden Suriah Ahmad) al-Sharaa bersama-sama di Masjid Umayyah akan menjadi pemandangan bersejarah, sebuah pernyataan nyata mengenai kemitraan strategis kedua negara,” tambah Yılmaz.
Dalam wawancara dengan Al-Jazeera tersebut, Erdoğan juga menyoroti pentingnya keterlibatan komunitas Kurdi Suriah dalam menikmati perdamaian dan stabilitas di era baru ini. Erdogan menegaskan komitmen untuk terus mempererat hubungan dengan komunitas Kurdi di seluruh kawasan. Suriah baru-baru ini mencapai kemajuan dalam kesepakatan dengan YPG—sayap Suriah dari kelompok teroris PKK—terkait integrasi mereka ke dalam struktur negara pasca-Assad. Damaskus juga mulai memulihkan hak-hak komunitas Kurdi, kelompok yang diklaim diwakili oleh YPG.
Turki sendiri sedang mengupayakan inisiatif “Turki bebas teror” demi perlucutan senjata PKK, kelompok yang selama beberapa dekade telah memanfaatkan warga Kurdi yang kurang beruntung untuk merekrut anggota bagi perjuangan mereka mewujudkan apa yang disebut sebagai “Kurdistan” di wilayah tenggara Turki. Inisiatif “Turki bebas teror” ini—yang pertama kali diusulkan oleh sekutu pemerintah, Devlet Bahçeli dari Partai Gerakan Nasionalis (MHP)—terutama bertujuan untuk “memperkuat ketahanan dalam negeri untuk menghadapi ancaman eksternal melalui persatuan Turki-Kurdi”, sebagaimana telah berulang kali ditekankan oleh Bahçeli dan Erdoğan sebelumnya.
Terkait Gaza, Erdoğan menyatakan bahwa Ankara akan terus mendukung Palestina dan melanjutkan dukungannya. Ia mengkritik “Israel” karena tidak mematuhi gencatan senjata. Ia menegaskan bahwa Hamas, di sisi lain, telah memenuhi komitmennya dengan itikad baik.
Mengenai Lebanon, Erdoğan menyatakan bahwa serangan “Israel” yang terus berlangsung terhadap negara tersebut merupakan sumber kekhawatiran serius. Erdogan menyebutkan bahwa ia telah membahas masalah ini dengan Presiden AS Donald Trump saat kunjungan Trump ke Ankara bulan lalu untuk menghadiri KTT NATO. (af)