Pemilu AS: Potensi Terpilihnya Seorang Muslim untuk Pertama Kalinya di Senat AS

SALAM-ONLINE.COM: Pemilihan umum paruh waktu di Amerika Serikat, terutama yang berlangsung pada masa jabatan awal seorang presiden baru, selalu dipandang sebagai referendum terhadap kinerja Gedung Putih.
Tahun ini pun tidak terkecuali. Bagi warga Amerika keturunan Arab dan Muslim khususnya, taruhannya sangat besar karena pemerintahan saat ini memperketat kebijakan terhadap pengungsi dan imigran, menindak kritik terhadap “Israel” serta sentimen pro-Palestina, dan secara terbuka melontarkan retorika anti-Muslim. Semua langkah ini telah mendominasi pemberitaan nasional dan mengubah secara drastis cara hidup banyak komunitas minoritas dalam keseharian mereka.
Presiden AS Donald Trump, bersama “Israel”, juga telah melancarkan “perang” terhadap Iran—sebuah tindakan yang mengguncang seluruh kawasan tersebut dan menyebabkan lonjakan harga bahan bakar bagi masyarakat Amerika.
Pekan lalu, Pew Research mengungkapkan bahwa hanya tiga dari setiap 10 orang Amerika yang menyetujui kinerja Trump selama dua tahun pertamanya menjabat.
Setiap dua tahun sekali, seluruh 435 kursi di DPR (House of Representatives) dan sekitar sepertiga dari 100 kursi di Senat diperebutkan. Anggota DPR menjabat selama dua tahun, sementara Senator—yang memiliki peran lebih senior dan umumnya lebih dikenal publik—menjabat selama enam tahun.
Setiap negara bagian memiliki dua senator, terlepas dari luas wilayah maupun jumlah penduduknya. Sebaliknya, jumlah kursi di DPR ditentukan berdasarkan distribusi populasi. Tidak Ada Batasan Masa Jabatan.
Abdul el-Sayed—Akankah Menjadi Muslim Pertama yang Duduk di Senat?
Pada 3 November, terdapat setidaknya lima pemilihan kursi Senat yang patut dicermati, seiring upaya Partai Demokrat untuk membalikkan keadaan. Saat ini, jumlah kursi mereka lebih sedikit dibandingkan Partai Republik, yakni 47 berbanding 53 di majelis tinggi tersebut. Jika terjadi perolehan suara yang sama kuat (seri), keputusan akhir akan ditentukan oleh wakil presiden, yang saat ini berasal dari Partai Republik.
Salah satu yang paling krusial adalah pemilihan di Michigan antara kandidat Demokrat, Abdul el-Sayed, dan kandidat Republik, Mike Rogers; mengingat Michigan merupakan negara bagian penentu (swing state) yang sulit diprediksi dalam siklus pemilihan umum AS.
Sayed, yang belum pernah memegang jabatan melalui pemilihan umum, telah menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan di media; bahkan para pembawa acara di Fox News—saluran yang dikenal sangat konservatif—memuji gaya dan keterampilannya.
Rogers, mantan anggota Kongres sekaligus agen FBI, mendapatkan dukungan dari Trump serta kelompok-kelompok lobi pro-“Israel”. Menurut situs web Aipac Tracker, sejauh ini ia telah menerima hampir $6 juta dari kelompok-kelompok tersebut.
Dalam sebuah kampanye di Tennessee pada Sabtu (10/10) lalu Trump menyatakan bahwa ia akan menyebut Sayed sebagai “Mohammed” karena menganggapnya sebagai seorang “jihadis radikal”.
Jika Sayed memenangkan pemilihan ini, ia akan menjadi Muslim pertama yang pernah menjabat di Senat. Berbeda dengan kemenangan bersejarah Wali Kota Muslim pertama di New York City, Sayed lahir di Amerika Serikat, yang membuatnya memenuhi syarat untuk mencalonkan diri sebagai presiden di masa depan.
Saat ini, peluang dalam pemilihan tersebut lebih berpihak pada Sayed.
Senat
Di Texas, negara bagian yang merupakan basis kuat Partai Republik, Ken Paxton—sosok yang didukung Trump dan kerap dililit skandal—menghadapi persaingan ketat dari kandidat Partai Demokrat, James Talarico. Pertarungan ini kini berpotensi menjadi kemenangan besar bagi Partai Demokrat.
Paxton sebelumnya pernah didakwa atas kasus penipuan dan dimakzulkan karena korupsi saat menjabat di badan legislatif negara bagian, namun ia tidak pernah dinyatakan bersalah. Sebagai Jaksa Agung Texas, ia berada di garda depan upaya untuk mengkriminalisasi organisasi hak sipil Muslim terbesar di Amerika Serikat.
Talarico, yang jauh lebih muda, berhasil menarik simpati warga Texas dengan menonjolkan kedekatannya pada iman Kristen serta dukungannya terhadap “Israel”. Di saat yang sama, ia berpendapat bahwa harus ada syarat tertentu terkait persenjataan yang dikirim AS ke negara tersebut.
Di Maine, senator petahana dari Partai Republik, Susan Collins—yang telah menjabat selama tiga dekade—berisiko digantikan oleh kandidat Demokrat, Troy Jackson. Dalam kampanyenya yang tergolong baru, Jackson secara tegas menyatakan keyakinannya bahwa “Israel” sedang melakukan genosida di Gaza. Menurutnya, AS seharusnya tidak memberikan bantuan militer kepada penjajah tersebut.
Dalam pemilihan Senat di Iowa—negara bagian yang cenderung mendukung Partai Republik namun persaingannya bisa sangat ketat—kandidat Demokrat Josh Turek, seorang anggota legislatif negara bagian sekaligus atlet bola basket kursi roda, akan berhadapan dengan anggota Kongres dari Partai Republik yang juga mantan jurnalis penyiaran, Ashley Hinson.
Hinson memosisikan dirinya sebagai seorang anggota Partai Republik moderat, namun ia dikenal karena tidak mendukung pemungutan suara di Kongres yang bertujuan memaksa Trump untuk meminta otorisasi terkait perang dengan Iran. Ia juga telah menyatakan dukungan penuhnya terhadap “Israel”.
Turek menyatakan bahwa dana pembayar pajak tidak boleh diberikan kepada negara mana pun yang dituduh melanggar hukum internasional.
Sementara itu di Ohio, tempat pemilihan khusus tengah berlangsung untuk mengisi sisa dua tahun masa jabatan Senat yang sebelumnya dipegang oleh Wakil Presiden JD Vance, kandidat dari Partai Demokrat, Sherrod Brown, unggul atas petahana dari Partai Republik, Jon Husted—meskipun hasil akhir persaingan ini masih bisa berubah.
Brown, yang sebelumnya menjabat sebagai senator selama tiga periode, tetap mempertahankan pendiriannya untuk mendukung penuh “Israel”, meskipun para pemilih di partainya sendiri kini memiliki pandangan negatif terhadap negara tersebut. Salah satu penyumbang organisasi terbesar baginya adalah J Street, sebuah kelompok yang mendeskripsikan dirinya sebagai pihak yang “pro-Israel, pro-perdamaian, dan pro-demokrasi”.
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
Di majelis rendah ini, Partai Republik memegang mayoritas dengan 218 kursi berbanding 214 kursi. Partai Demokrat perlu memenangkan setidaknya tiga hingga lima kursi tambahan untuk dapat memberikan dampak yang berarti pada masa jabatan Kongres berikutnya. Selain itu, terdapat satu anggota independen dan dua kursi yang kosong.
Di antara tiga anggota Partai Republik yang mewakili distrik yang dimenangkan oleh kandidat presiden dari Partai Demokrat, Kamala Harris, pada tahun 2024, anggota Kongres dari Distrik ke-17 New York, Mike Lawler, adalah sosok yang paling rentan kehilangan kursinya.
Bahkan, Trump tampak telah memanggil sejumlah pemimpin Yahudi anti-Zionis dari distrik tersebut ke Gedung Putai dalam upaya untuk menggalang dukungan baginya, mengingat pengaruh mereka yang cukup besar.
Hampir tiga lusin kursi di DPR (House of Representatives) di seluruh Amerika Serikat dianggap bersaing dengan sangat ketat tahun ini, berdasarkan jajak pendapat dan sentimen pemilih. Sepertiga dari kursi tersebut berada di wilayah Selatan yang merupakan basis kuat Partai Republik, dan saat ini dipegang oleh petahana dari partai tersebut. Wilayah ini membentang dari sebagian Virginia, melalui North Carolina dan Florida, ke arah barat hingga Texas, dan kemudian Arizona.
Saat ini terdapat lima anggota DPR yang Muslim, semuanya berasal dari Partai Demokrat: Andre Carson dari Indiana (terpilih pada 2008); Rashida Tlaib dari Michigan dan Ilhan Omar dari Minnesota (terpilih pada 2018); Lateefah Simon dari California (terpilih pada 2024); serta Aisha Wahab, juga dari California, yang terpilih pada bulan Agustus untuk mengisi kursi kosong dan kini harus kembali mencalonkan diri dalam pemilihan umum.
Namun tahun ini, perhatian tertuju pada gelombang baru kandidat progresif dari distrik-distrik yang menjadi basis kuat Partai Demokrat. Mereka hampir dipastikan akan menduduki kursi di Kongres AS setelah memenangkan pemilihan pendahuluan (primary) di negara bagian masing-masing.
Sebagian besar dari mereka adalah pendatang baru dalam dunia politik yang mengusung pesan-pesan kemenangan seperti dalam kampanye Mamdani (Wali Kota New York): fokus pada keterjangkauan biaya hidup bagi kelas pekerja serta dukungan terhadap hak-hak rakyat Palestina.
Mereka juga menolak menerima dana dari korporasi untuk membiayai kampanye mereka—sebuah langkah yang tergolong berisiko di negara di mana hasil pemilihan bisa sangat bergantung pada seberapa besar dana yang berhasil dikumpulkan oleh seorang kandidat.
Adam Hamawy, seorang ahli bedah keturunan Mesir-Amerika yang menarik perhatian nasional berkat misi medisnya yang penuh tantangan di Gaza pada tahun 2024, berhasil memenangkan pemilihan pendahuluan (primary) Partai Demokrat di distrik ke-12 New Jersey pada Juni lalu. Ia diperkirakan akan meraih kemenangan dengan mudah bulan depan.
Di wilayah tetangga, New York, tiga tokoh progresif yang juga dikenal vokal dalam mengkritik “Israel” diperkirakan akan meraih kemenangan serupa: Darializa Avila Chevalier, seorang sosialis demokrat yang mencetak kejutan besar dengan mengalahkan petahana di distrik ke-13 negara bagian tersebut awal tahun ini; anggota legislatif negara bagian Claire Valdez, yang juga seorang sosialis demokrat dan pemenang pemilihan pendahuluan untuk distrik ke-7; serta Brad Lander, sekutu dekat Mamdani sekaligus mantan pengawas keuangan (comptroller) Kota New York yang memenangkan pemilihan pendahuluan untuk distrik ke-10.
Democratic Socialists of America (Sosialis Demokrat Amerika) bukanlah sebuah partai politik, melainkan organisasi yang memberikan dukungan kepada kandidat dalam pemilihan umum berdasarkan aspirasi anggotanya serta penilaian terhadap platform politik kandidat tersebut.
Di distrik ke-3 Pennsylvania, politisi Demokrat progresif sekaligus anggota legislatif negara bagian, Chris Rabb, diperkirakan akan melenggang mulus menuju kursi Kongres. Hal yang sama juga diprediksi bagi pemenang pemilihan pendahuluan Partai Demokrat di distrik pertama Colorado, Melat Kiros, seorang imigran asal Ethiopia berusia 29 tahun. Dalam pemilihan pendahuluan tersebut, ia berhasil menumbangkan seorang anggota Kongres yang telah menjabat sejak sebelum ia lahir. (af)