Inggris Imbau Warganya tidak Gunakan Bandara Mana pun di Arab Saudi Kecuali Madinah

SALAM-ONLINE.COM: Pemerintah Inggris telah mengimbau warganya untuk menghindari perjalanan yang tidak mendesak ke sejumlah wilayah di Arab Saudi—termasuk Jeddah dan Dammam—serta ke seluruh bandara di negara tersebut, kecuali Bandara Internasional Madinah.
Inggris, seperti dilansir Middle East Eye (MEE), Senin (12/10/2026), juga memperingatkan warganya agar tidak berupaya meninggalkan Arab Saudi melalui bandara-bandara di negara itu.
Imbauan ini dikeluarkan menyusul serangan terbaru terhadap terminal penumpang di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, pada Ahad (11/10), yang menewaskan sedikitnya satu orang dan melukai 11 orang lainnya.
Sehari sebelumnya, pada Sabtu (10/10), serangan di bandara tersebut menewaskan sedikitnya 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang, menjadikannya serangan paling mematikan terhadap negara Teluk itu sejak perang AS-“Israel” melawan Iran dimulai pada 28 Februari.
Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab Saudi menyatakan bahwa empat warga negara Saudi, dua warga Bangladesh, Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, dan Sudan tewas dalam serangan tersebut.
Ini merupakan serangan ketiga terhadap bandara tersebut dalam kurun waktu satu minggu, menyusul serangan-serangan sebelumnya yang menewaskan empat orang dan merusak sebuah pesawat komersial milik Arab Saudi.
Pada hari Ahad (11/10), Kementerian Luar Negeri Inggris memperbarui panduan resminya untuk mengimbau warga negara Inggris agar menghindari “segala perjalanan yang tidak mendesak ke semua bandara di Arab Saudi, kecuali Bandara Internasional Madinah”, serta “segala perjalanan yang tidak mendesak ke provinsi Aseer, Riyadh, Najran, dan Jizan, maupun ke kota Taif, Jeddah, dan Dammam”.
Kementerian Luar Negeri juga mengimbau agar tidak melakukan perjalanan apa pun ke wilayah dalam radius 10 km dari perbatasan dengan Yaman.
“Sebagai alternatif selain bandara di dalam Arab Saudi,” ujar pihak Kementerian Luar Negeri, warga negara Inggris yang ingin meninggalkan Arab Saudi sebaiknya mempertimbangkan opsi perjalanan darat ke negara-negara tetangga dan terbang dari sana.
Juru bicara militer milisi Houthi, Yahya Saree, memperingatkan para pelancong, maskapai penerbangan, dan perusahaan pelayaran untuk tidak menggunakan bandara serta wilayah udara Arab Saudi. Ia menyatakan bahwa lokasi-lokasi tersebut “rentan menjadi sasaran dan merupakan arena operasi pasukan kami”, kecuali bandara di Makkah dan Madinah.
Saree mengatakan pasukan Houthi melancarkan sejumlah operasi terhadap Bandara King Khalid pada Sabtu, yang “mengakibatkan gangguan lalu lintas udara di bandara tersebut serta penutupannya secara total”.
Ia juga menyebutkan Bandara King Fahd di Dammam, sebuah stasiun pengisian bahan bakar yang berafiliasi dengan Aramco, serta sebuah kilang minyak di Wilayah Timur Arab Saudi sebagai target-target serangan.
Eskalasi berbahaya
Serangan-serangan terbaru ini menandai eskalasi signifikan dalam konflik antara Arab Saudi dan milisi Syiah Houthi di Yaman, yang ditandai dengan kembali meletusnya pertempuran serta ofensif militer pimpinan Arab Saudi terhadap kelompok tersebut.
Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting mengecam serangan bandara pada Sabtu itu sebagai “eskalasi berbahaya” dan “tindakan yang sangat tercela”.
Sementara itu di Yaman, laporan media yang berbasis di Sana’a menyebutkan adanya serangan udara di distrik Hamdan, Sana’a, serta dua serangan lainnya di Jalan al-Zurbi, distrik Hayfan, Taiz.
Serangan rudal juga dilaporkan terjadi di distrik perbatasan al-Dhaher, Provinsi Saada. Sejauh ini, tidak ada laporan mengenai korban jiwa.
Departemen Luar Negeri AS telah mengimbau warga negara Amerika untuk sangat berhati-hati saat bepergian melalui bandara-bandara di Arab Saudi, di tengah kembali terjadinya serangan.
“Pegawai pemerintah AS yang bekerja di Arab Saudi memerlukan izin khusus untuk menggunakan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, serta bandara di Jeddah dan Dammam,” demikian pernyataan akun resmi mereka di X.
“Harap sangat berhati-hati saat menggunakan bandara-bandara utama di Arab Saudi. Warga negara AS perlu mewaspadai potensi pembatalan penerbangan, penutupan wilayah udara, dan gangguan perjalanan.”
Di tengah eskalasi situasi, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan pembicaraan telepon dengan mitranya dari Arab Saudi, Faisal bin Farhan.
Menurut media pemerintah Iran, Araghchi menyatakan bahwa Iran siap membantu memulai dialog antara Arab Saudi dan Yaman.
Ia mengungkapkan kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan dan menegaskan bahwa “pendekatan militer serta pengabaian solusi politik hanya akan semakin memperumit situasi saat ini”.
Araghchi juga kembali menekankan bahwa krisis di kawasan tersebut “tidak memiliki solusi militer”. Ia menambahkan bahwa Teheran “siap memberikan bantuan apa pun untuk membantu memulai dialog antara Arab Saudi dan Yaman serta membantu tercapainya solusi politik”. (is)