Lebih dari 8.000 Warga Palestina Masih Dinyatakan Hilang Setelah Tiga Tahun Genosida di Gaza

Warga Palestina memeriksa puing-puing rumah yang hancur akibat serangan udara ‘Israel” di kawasan Al-Sabra, Kota Gaza, Palestina, 9 Oktober 2026. (Foto EPA)

SALAM-ONLINE.COM: Ribuan keluarga Palestina masih sangat mengharapkan kepastian mengenai nasib orang-orang terkasih mereka yang hilang selama tiga tahun serangan genosida “Israel” di Gaza. Sementara kehancuran yang meluas, pembatasan akses, dan keterbatasan sumber daya forensik menghambat upaya pencarian mereka yang hilang.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan jutaan ton puing menutupi wilayah Gaza. Sementara pihak Pertahanan Sipil Palestina menyatakan bahwa lebih dari 8.000 orang masih hilang di bawah reruntuhan. Ada pula kemungkinan mereka ditahan atau nasibnya tidak diketahui sama sekali, sehingga keluarga tidak memiliki kepastian apakah kerabat mereka masih hidup atau sudah meninggal.

Pat Griffiths, juru bicara Komite Internasional Palang Merah (ICRC) di Yerusalem, menceritakan pengalamannya melihat keluarga-keluarga berkumpul di rumah sakit saat bus-bus yang membawa tahanan Palestina yang dibebaskan tiba di Gaza. Sebagian dari mereka memegang foto kerabat yang hilang, berharap dapat mengetahui apakah keluarga mereka termasuk di antara mereka yang dibebaskan.

Para psikolog menyebut pengalaman ini sebagai “kehilangan yang ambigu” (ambiguous loss), yaitu suatu bentuk duka di mana keluarga tidak dapat memastikan apakah orang yang mereka cintai masih hidup atau sudah meninggal.

“Anda tidak tahu apakah orang terkasih yang tidak ada kabarnya itu… masih hidup atau sudah tiada. Anda tidak tahu apakah mereka sedang ditahan atau tidak,” ujar Griffiths kepada Anadolu Agency (AA).

“Ribuan orang hidup dalam ketidakpastian semacam ini. Ada rasa pedih karena tidak tahu apa yang harus dilakukan atau bagaimana sebenarnya harus bersikap. Mereka merasa terjebak dalam situasi ini.”

Amani Al Naouq, juru bicara ICRC di Gaza, mengatakan bahwa pihak keluarga terus-menerus mendatangi organisasi tersebut untuk mencari jawaban.

“Jika mereka sudah meninggal, kami bisa merasa lega. Namun, kenyataan bahwa kami tidak tahu apakah mereka sudah meninggal atau masih hidup…” demikian penuturan keluarga yang ia ingat. “Itulah salah satu hal terberat bagi mereka.”

Sebagian orang terus menghubungi ICRC meskipun belum ada jawaban, karena mereka hanya membutuhkan tempat untuk mencurahkan kepedihan mereka. Sementara itu, ada pula yang mulai menerima kenyataan bahwa kerabat mereka yang hilang telah meninggal dunia, meski tanpa adanya konfirmasi resmi, ujar Al Naouq.

Proses Evakuasi yang Sulit

Upaya pencarian terkendala oleh besarnya skala kehancuran di seluruh wilayah Gaza. Tumpukan puing mungkin saja menyimpan jenazah, bahan peledak yang belum meledak, serta bukti-bukti penting terkait penyelidikan dugaan kejahatan internasional yang dilakukan oleh penjajah “Israel” tersebut.

Sebuah penilaian kerusakan yang dilakukan pada April 2026 oleh Uni Eropa, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan Bank Dunia memperkirakan bahwa biaya untuk menyingkirkan dan mengelola lebih dari 68 juta metrik ton puing akan melebihi 1,7 miliar dolar AS.

Al Naouq mengatakan bahwa tim evakuasi memiliki akses yang sangat terbatas terhadap alat berat. Terkadang mereka hanya mengandalkan satu atau dua ekskavator yang disewa dari pihak swasta. Sebagian besar pekerjaan dilakukan menggunakan peralatan yang lebih kecil atau bahkan secara manual dengan tangan.

Tim juga sangat bergantung pada informasi dari pihak keluarga untuk mengetahui lokasi terakhir kerabat mereka terlihat, termasuk bangunan dan ruangan spesifiknya. Menceritakan kembali momen-momen tersebut dapat membuat keluarga harus kembali merasakan kepedihan saat mereka tidak mampu menyelamatkan orang-orang tersayang.

“Hal ini pada dasarnya membuka kembali luka lama bagi keluarga-keluarga tersebut,” kata Al Naouq.

Griffiths, yang baru saja menghabiskan waktu seminggu di Gaza, menggambarkan pemandangan puing-puing yang membentang sejauh berkilo-kilometer. Banyak di antaranya menyimpan bahaya akibat sisa-sisa perang yang belum meledak. ICRC mendukung penyewaan dua ekskavator, namun ia menyebut kontribusi tersebut sangat minim dibandingkan dengan kebutuhan yang ada.

“Besarnya tugas yang mereka hadapi sungguh mencengangkan. Skalanya luar biasa besar,” ujarnya.

Akses yang terbatas menghalangi tim evakuasi untuk menjangkau wilayah-wilayah luas dengan aman. Menurut ICRC, fasilitas tes DNA juga tidak tersedia di Gaza, sehingga para ahli forensik terpaksa mengandalkan detail-detail seperti usia, tinggi badan, data gigi, pakaian, riwayat cedera, serta barang-barang pribadi.

Faktor waktu semakin mempersulit proses identifikasi karena jenazah mengalami pembusukan. Sementara pergerakan puing-puing memisahkan jenazah dari lokasi penemuan awalnya.

“Semakin lama waktu berlalu, semakin sulit pula mengidentifikasi jenazah,” kata Griffiths. Ia memperingatkan bahwa upaya pencarian bisa berlangsung selama beberapa dekade, sebagaimana terlihat dalam konflik di Suriah, Irak, Afghanistan, dan wilayah Balkan.

Belum Berakhir

Mayy El Sheikh, dari Kantor Hak Asasi Manusia PBB di wilayah pendudukan Palestina, menceritakan pengalamannya mewawancarai seorang perempuan penyandang disabilitas berusia 37 tahun yang suaminya hilang saat terjadi serangan terhadap rumah keluarga sang suami di Gaza utara pada tahun 2023. Pasangan tersebut memiliki seorang putra berusia 5 tahun.

“Hampir seluruh anggota keluarga suaminya tewas. Beberapa jenazah berhasil ditemukan, namun jenazah suaminya tidak,” ungkap El Sheikh.

Perempuan itu meyakini ia mengetahui lokasi suaminya terkubur di bawah reruntuhan, namun ia tidak dapat menjangkau lokasi tersebut karena letaknya berada di luar garis penempatan pasukan “Israel”, yang dikenal sebagai “garis kuning”.

Baca Juga

El Sheikh mengatakan bahwa perempuan itu merasa telah mengecewakan suaminya karena tidak dapat menemukan jenazahnya dan memberikan penghormatan terakhir melalui pemakaman yang layak.

“Baginya, perang belum berakhir sampai suaminya ditemukan,” kata El Sheikh.

Ada pula keluarga-keluarga lain yang sempat meyakini kerabat mereka yang hilang telah meninggal dunia, sebelum akhirnya melihat mereka masih hidup dalam foto atau video dari penjara “Israel”, tambahnya.

Risiko Hilangnya Bukti

Penghancuran puing-puing di Gaza telah menimbulkan kekhawatiran bahwa jenazah manusia dan bukti dugaan kejahatan internasional dapat lenyap.

Francesca Albanese, Pelapor Khusus PBB untuk wilayah Palestina yang diduduki/dijajah memperingatkan bahwa tindakan menghancurkan dan memindahkan puing-puing di wilayah yang berada di bawah kendali militer “Israel” dapat memusnahkan bukti-bukti yang ada.

El Sheikh menyatakan bahwa akses yang terbatas, adanya laporan mengenai pembersihan puing, serta minimnya sumber daya forensik telah meningkatkan risiko hilang atau rusaknya bukti-bukti tersebut. Wilayah yang luas masih belum dapat diakses oleh pengamat maupun penyelidik independen.

Ia juga menyoroti laporan mengenai pengembalian jenazah kepada pihak berwenang Palestina tanpa disertai informasi identitas atau rincian mengenai lokasi penemuan jenazah tersebut.

“Mereka telah mengembalikan jenazah kepada pihak berwenang Palestina—terkadang hanya berupa potongan tubuh—tanpa identitas serta tanpa kejelasan mengenai lokasi penemuan atau bagaimana mereka tewas,” ujarnya.

Srinivasan Muralidhar, ketua Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB untuk wilayah pendudukan Palestina—termasuk Yerusalem Timur—mengatakan bahwa komisi tersebut telah menerima laporan mengenai pembersihan puing yang dapat memusnahkan bukti-bukti.

“Kami khawatir bahwa pembersihan puing tersebut dapat menyebabkan hilangnya bukti untuk selamanya,” ujarnya.

Bukti yang diperoleh dari bangunan-bangunan yang hancur dapat melengkapi keterangan saksi, rekam medis, dan temuan forensik, sehingga membantu penyelidik merekonstruksi peristiwa. Meskipun hilangnya bukti tidak serta-merta menghalangi penyelidikan atas dugaan tindak pidana, Muralidhar mengatakan hal itu dapat menimbulkan celah informasi yang penting.

Ia juga menekankan hak keluarga untuk mengetahui apa yang menimpa kerabat mereka.

“Dalam hukum internasional, dikenal adanya konsep hak atas kebenaran. Setiap keluarga ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,” katanya.

Kebutuhan Mendesak Akan Akses dan Sumber Daya

Griffiths menyerukan penyediaan lebih banyak alat berat, akses kemanusiaan yang lebih luas, serta jalur aman bagi tim evakuasi untuk menjangkau wilayah-wilayah yang saat ini sulit diakses.

Muralidhar mendesak adanya kerja sama internasional untuk mempercepat pembersihan puing sembari tetap menjaga potensi bukti dan mencegah kerusakan lebih lanjut.

“Kita memerlukan kerja sama lintas negara untuk membantu membersihkan puing dengan lebih cepat,” ujarnya, seraya memperingatkan bahwa serangan yang terus berlanjut dapat membuat upaya evakuasi dan pemulihan menjadi semakin sulit.

Tempat untuk Berduka

ICRC telah mendukung penyediaan lahan pemakaman bagi jenazah tak dikenal di Deir al-Balah. Di lokasi ini, jenazah yang ditemukan dapat dimakamkan secara terpisah. Sementara informasi terkait tetap disimpan untuk keperluan identifikasi di kemudian hari.

Tim forensik mendokumentasikan rincian identifikasi yang tersedia dan memberikan nomor seri unik bagi setiap jenazah tak dikenal yang terhubung dengan catatan pemakamannya. ICRC juga mendukung sistem pertukaran informasi yang menghubungkan tim evakuasi, pihak berwenang di bidang forensik, dan pengelola pemakaman.

Upaya ini dapat memungkinkan identifikasi di masa mendatang jika tes DNA tersedia di Gaza.

Saat mengunjungi pemakaman tersebut, Griffiths dan Al Naouq bertemu dengan seorang perempuan muda yang jenazah suaminya telah diidentifikasi menggunakan metode forensik yang tersedia.

“Dia bisa mengunjungi makam suaminya, berdiri di dekat makam itu, dan merasa dekat dengannya,” ujar Griffiths, menggambarkan rasa lega dan ketenangan batin yang dihadirkan oleh pemakaman tersebut. (mus)

Baca Juga