Pemilu Zionis: Oposisi ‘Israel’ Janji Gantikan Netanyahu dan Bawa Perubahan

Terakhir Diperbarui
Pemimpin oposisi penjajah “Israel”, Gadi Eisenkot

SALAM-ONLINE.COM: Pemimpin oposisi dari partai Yashar penjajah Zionis, Gadi Eisenkot, menyatakan bahwa para pemilih telah menolak pemerintahan Benjamin Netanyahu. Ia berjanji untuk membentuk pemerintahan baru yang berkomitmen pada wajib militer, mengingat tidak satu pun dari dua blok utama yang tampak mampu meraih mayoritas kursi di parlemen.

Dalam sebuah unggahan di platform X, Rabu (28/10/2026), Eisenkot mengatakan bahwa ia baru saja menyelesaikan rangkaian pertemuan dan diskusi panjang yang bertujuan untuk mewujudkan keinginan para pemilih.

“Masih ada hari-hari kerja panjang di depan, namun kami fokus pada tugas berat yang dipercayakan kepada kami: membawa perubahan bagi ‘Israel’ dan membentuk pemerintahan Zionis yang berkomitmen pada wajib militer,” tulisnya.

Ia menyebutkan bahwa para pemilih telah menyatakan ketidakpercayaan terhadap “pemerintahan 7 Oktober dan penghindaran wajib militer,” serta apa yang ia sebut sebagai “blok penghindar wajib militer”—sebuah istilah yang merujuk pada aliansi rezim Netanyahu.

Menurutnya, blok tersebut kini berada di titik terendah dalam dua dekade terakhir.

“Saya merasakan beratnya tanggung jawab dan kepercayaan yang diberikan kepada saya oleh ratusan ribu warga yang meyakini ‘Negara Israel’ dan Zionisme,” tulis Eisenkot.

“Berkat Anda semua, kita telah mencatatkan sejarah,” ujarnya kepada para pendukung. Ia menambahkan bahwa partainya, yang baru dibentuk dalam kurun waktu satu tahun, telah menjadi kekuatan politik baru yang mewakili berbagai lapisan masyarakat “Israel” serta menawarkan alternatif pemerintahan yang kredibel dan bertanggung jawab.

Ia berjanji untuk menuntaskan tugas yang ada di depan mata, seraya menambahkan: “Kita akan bertindak dan meraih keberhasilan.”

Dengan 89,8% suara yang telah dihitung, blok Netanyahu diproyeksikan meraih 53 kursi di Knesset yang beranggotakan 120 orang. Sementara blok yang dipimpin oleh Eisenkot diperkirakan memperoleh 48 kursi. Dua partai yang sebagian besar anggotanya berasal dari kalangan Arab diproyeksikan mengamankan total 19 kursi.

Belum ada satu pun blok pesaing yang mencapai 61 kursi yang diperlukan untuk meraih mayoritas parlemen.

Angka-angka tersebut masih bersifat sementara, mengingat ratusan ribu surat suara dalam “amplop ganda”—termasuk suara dari tentara dan diplomat—masih menunggu untuk dihitung. (af)

▲