Napak Tilas Pasangan Mujahid di Film ‘Nyai Ahmad Dahlan’


JAKARTA (SALAM-ONLINE): Film yang menggambarkan sosok istri dari seorang Ulama Pembaru (Mujaddid) asal Yogyakarta, yang juga pendiri Muhammadiyah, Kiai Haji Ahmad Dahlan mulai tayang pada 24 Agustus nanti.

Pemutaran perdananya digelar dalam acara Nonton Bareng di Gala Premiere Studio 1 Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (19/8/2017) malam.

Film drama-biopik ini hadir dengan sederet kisah cinta, perjuangan, dakwah dan jihad perempuan bernama Siti Walidah, atau yang lebih dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan.

Film yang berjudul “Nyai Ahmad Dahlan” itu, disutradarai oleh Olla Atta Adonara, yang memilih Tika Bravani memerankan tokoh Nyai Dahlan. Sementara untuk peran Kiai Ahmad Dahlan sendiri dipilih aktor kharismatik David Chalik.

Diangkat dari kisah nyata perjalanan dua insan yang terikat cinta pernikahan, film itu menjadi apik untuk dinikmati. Selain untuk mengenang perjuangan dua pahlawan nasional itu, film ini juga hadir sebagai inspirasi generasi bangsa.

Di sana, tergambar jelas bagaimana Nyai Dahlan menjadi wanita yang bukan saja pandai mengatur rumah tangga, atau juga seorang ibu yang hanya pintar memasak untuk memenuhi kebutuhan lambung keluarga. Nyai Dahlan sudah tidak lagi berada di level itu.

Sebagai Istri seorang Ulama dan Mujahid, Nyai Dahlan sadar bahwa dirinya dipilih Allah untuk mendukung sekaligus menjadi teman perjuangan suami. Apapun permasalahan yang suami hadapi, seperti sudah menjadi persoalan dirinya juga. Maka tak jarang pekerjaan yang biasanya dikerjakan seorang laki-laki, malah justru dikerjakan oleh Nyai. Salah satunya seperti memimpin Kongres Muhammadiyah di tahun 1926.

Pernah juga Nyai turut membantu urusan finansial organisasi Muhammadiyah yang baru seumur jagung saat itu. Pada suatu hari, Kiai Ahmad Dahlan risau akan Muhammadiyah yang jangkauan dakwahnya semakin luas, sementara keuangannya sangat tidak memadai. Sadar akan kesulitan yang dihadapi suami, Nyai Dahlan langsung merelakan perhiasan warisan miliknya untuk diwakafkan demi kepentingan jihad suaminya.

Bahkan pernah suatu ketika, Nyai menemani suaminya untuk melelang perhiasan dan perabot rumah demi keberlangsungan jalan dakwah Muhammadiyah. Tidak ada keluh kesah, apalagi protes yang keluar dari mulutnya. Rasa-rasanya, untuk sebuah nyawa pun akan direlakan Nyai demi kepentingan dakwah.

Selain mengangkat kiprah Istri Nyai Dahlan dalam dakwah, Film ini juga mengangkat sisi pribadinya yang mengangkat derajat wanita pada zamannya. Jika saat itu wanita haram untuk pintar, hanya bekerja di dapur dan di rumah, atau sesekali membantu suami di ladang, Nyai Dahlan justru mendobrak paradigma itu dengan membuat sekolah kuhusus untuk perempuan.

Lebih dari itu, sadar akan perempuan mempunyai hak yang sama dengan laki-laki dalam amal ibadah, Nyai Dahlan tak mau kalah dengan suaminya yang mendirikan Muhammadiyah. Nyai Dahlan pun mendirikan organisasi gerakan perempuan bernama Sopo Tresno, yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Organisasi Aisyiyah, Organisasi Muslimah pendamping Muhammadiyah.

Jalan cinta antara Nyai Dahlan dengan Kiai Ahmad Dahlan sudah menjadi rencana agung Allah. Dipertemukannya dua manusia itu, menjadi manfaat besar bagi bangsa Indonesia. Berawal dari tangan dua pejuang itu, kini telah lahir ribuan lembaga pendidikan dan ratusan layanan kesehatan. Belum lagi aset ekonomi dan sosial lainnya.

Sampai saat ini, Muhammadiyah tercatat memiliki 3.370 TK, 2901 SD/MI, 1.761 SMP/MTs, 941 SMA/MA/SMK, 67 Pondok Pesantren, dan 167 perguruan tinggi. Pada sektor kesehatan tercatat sebanyak 47 Rumah Sakit (PKU), 217 Poliklinik, dan 82 klinik bersalin. (Nizar Malisy/Salam-Online)