Seminar Ekonomi STIE Tazkia: Membangun Bisnis tanpa Kredit Bank

DR Muhammad Syafi’i Antone (peci hitam) usai seminar dengan pembicara lainnya. (Foto: MNM/Salam-Online)

BOGOR (SALAM-ONLINE): Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Tazkia, menggelar seminar tahunan di Masjid Andalusia, Kampus Tazkia, Sentul, Bogor, pada Ahad (11/3/2018).

Berbeda dengan tahun-tahun sebelunya, di tahun ini KSEI mengangkat tema mengenai pembangunan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). UMKM sendiri saat ini dianggap sebagai usaha yang tengah banyak digandrungi.

Tampil sebagai pembicara, pakar Ekonomi Syariah, Dr Muhammad Syafi’i Antonio, Direktur Pengembangan UMKM Bank Indonesia, Yunita Resmi Sari dan pemilik usaha Bebek Dower, Doni Tirtana.

Syafi’i Antonio menilai bahwa dalam proses membangun bisnis, konsep, diferensi, serta strategi pemasaran adalah hal-hal yang perlu diperhatikan.

“Start up harus kuat dari sisi konsep bisnis dan keunikan dari bisnis itu Sendiri. Potensi growth-nya juga harus yang cukup bagus. Perputaran uangnya bisa ditarik harian, kemudian masuk dalam blue ocean,” jelas Syafi’i.

Blue Ocean adalah istilah yang dipopulerkan W. Chan Kim dan Renee Mauborgne dalam strategi pemasaran. Prinsipnya, jika ingin membangun brand, maka jangan pada kondisi yang telah sesak pesaing, atau yang diisitilahkan sebagai red ocean.

Selain itu, Syafi’i juga menjelaskan bahwa modal bukanlah kendala besar dalam membangun Start-up. Menurutnya, jalan untuk memperoleh modal bisnis pun tak melulu meminjam ke bank.

Jika aspek-aspek di atas telah terpenuhi, Syafi’i optimis perintis start-up tidak akan terlalu sulit memperoleh modal.

“Jika model bisnisnya sudah ditemui, modal itu akan mudah mengalir, baik dari keluarga sendiri atau dari teman-teman. Kalau ditawarkan fintech pun banyak yang berminat,” kata dia.

Pendapat Syafi’i pun sejalan dengan apa yang telah dilakukan pemilik usaha Kuliner, Bebek Dower. Sang pemilik, Doni Tirtana, yang telah berhasil membuka 16 cabang itu mengungkapkan merintis bisnisnya tidak ditopang oleh mekanisme kredit di bank yang terbilang rumit.

Namun, dia mengaku menggunakan cara dengan membangun kepercayaan ke orang-orang di sekitarnya.

“Dari awal saya memulai usaha sangat didukung oleh teman-teman. Saya tunjukkan saya serius dan sangat dapat dipercaya. Saya sangat mengidolakan Rasulullah yang sangat dipercaya. Itu yang saya tanamkan ketika saya hijrah dari proyek ke bisnis usaha makanan,” ungkap Doni. (MNM/Salam-Online)

Baca Juga