Setelah 2 Tahun, Mahathir Akan Serahkan Kursi Perdana Menteri ke Anwar Ibrahim

Dr Anwar Ibrahim (kiri) dan Dr Mahathir Mohamad

KUALA LUMPUR (SALAM-ONLINE): Dr Mahathir Mohamad dilantik sebagai pemimpin Malaysia setelah kemenangan aliansi partai oposisi (PKR) terhadap partai koalisi yang tengah berkuasa, Barisan Nasional (BN). Kemenangan yang mengejutkan dalam pemilu pada Rabu (8/5/2018) lalu itu, lantaran partai penguasa Malaysia ini telah memerintah selama enam dekade, yakni sejak merdekanya Malaysia dari Inggris pada 1957.

Untuk mengalahkan Perdana Menteri Tun Najib Abdul Razak yang diusung BN, Mahathir bergandengan tangan dengan pemimpin politik yang dipenjara, Dr Anwar Ibrahim, mantan Wakil Perdana Menteri di era Mahathir saat berkuasa sebelumnya.

Sebuah koalisi partai oposisi baru bernama Pakatan Harapan (PH) dibentuk pada Juli 2017 tahun lalu. PH menunjuk Dr Mahathir Mohamad sebagai ketua koalisi dan Dr Anwar Ibrahim sebagai ketua umum. Sementara Wan Azizah Ismail, istri Anwar, sekaligus Presiden Partai Keadilan Rakyat (PKR) menjadi Presiden PH.

Mahathir mengatakan salah satu tindakan pertamanya di awal menjabat perdana menteri adalah meminta pengampunan dari kerajaan untuk Anwar. Dia mengatakan akan meninggalkan posisinya setelah dua tahun ke depan sehingga Anwar bisa menjadi perdana menteri.

Untuk sementara ini, Istri Anwar, Wan Azizah Wan Ismail, akan menjadi wakil perdana menteri.

Divya Gopalan dari Aljazeera, melaporkan dari Kuala Lumpur, Kamis (10/5) malam bahwa warga Malaysia masih dalam suasana ‘euforia’ menyambut kemenangan aliansi oposisi (PKR).

“Saat ini, ada euforia di sini,” katanya.

“Telah ada kekecewaan terhadap pemerintah sebelumnya dengan kenaikan biaya hidup, tuduhan korupsi, sehingga mereka merasa perlunya memobilisasi beberapa jenis perubahan.”

Mengenakan pakaian tradisional Melayu, Mahathir melakukan sumpah jabatan dalam sebuah upacara di Kuala Lumpur pada Kamis (10/5/2018) malam. Raja Malaysia, Sultan Muhammad V, mengambil sumpah jabatan pria 92 tahun itu, kepala negara berusia tertua di dunia.

Ratusan warga Malaysia berbaris di jalan menuju istana, mengibarkan bendera partai dan menyemangati politisi veteran yang sebelumnya berkuasa selama 22 tahun hingga pensiun dari kursi perdana menteri pada 2003 tersebut.

Berbicara dalam sebuah konferensi pers usai pelantikan, Mahathir mengucapkan terima kasih kepada para pendukungnya. “Segera, kita harus melakukan banyak pekerjaan besok,” katanya, Kamis (10/5) malam.

Aliansi partai oposisi pimpinan Mahathir, Pakatan Harapan atau Aliansi Harapan (PKR), terdiri dari empat partai, dengan pengusung utama Partai Kedilan Rakyat besutan Dr Anwar Ibrahim, mengalahkan koalisi Barisan Nasional (BN) yang berkuasa, yang telah memerintah negara itu sejak kemerdekaannya dari Inggris, 1957.

Rakyat pemilih nampaknya menghukum Perdana Menteri Tun Najib Razak yang telah terlibat dalam skandal korupsi besar-besaran selama bertahun-tahun dan juga menerapkan pajak penjualan yang sangat tidak populer.

Sebelumnya pada hari yang sama, Kamis, Najib yang memerintah Malaysia selama hampir satu dekade, mengatakan dia menerima “keputusan rakyat”. Dia tidak menghadiri upacara pelantikan Mahathir di istana.

Dalam penghitungan terakhir, aliansi oposisi pimpinan Mahathir memenangkan 121 kursi, melebihi dari yang dibutuhkan untuk mayoritas sederhana. Sementara dan BN—yang berkuasa—memperoleh 79 kursi dari total 222 kursi parlemen, demikian menurut hasil resmi.

Namun Mahathir mengatakan bahwa pemerintahannya telah diyakinkan akan mendapat dukungan 135 anggota parlemen.

Mahathir memutuskan untuk melawan Najib menyusul skandal keuangan yang dilakukan mantan anak didik politiknya itu. Karena itu, Mahathir bergabung dengan oposisi, termasuk dengan Anwar Ibrahim yang saat ini masih meringkuk dalam penjara, untuk mengalahkan Najib.

Seperti diberitakan, Departemen Kehakiman AS mengatakan US$ 4.5bn dijarah dari dana investasi 1MBD oleh rekanan mantan Perdana Menteri Najib antara 2009 dan 2014, termasuk US$ 700 juta yang ‘mendarat’ di rekeningnya. Najib sendiri membantah tuduhan itu.

Mahathir mengatakan kepada wartawan bahwa dia akan berusaha membuat mata uang ringgit setinggi mungkin dan mengembalikan miliaran yang hilang dalam skandal 1MDB.

“Kami percaya bahwa kami bisa mendapatkan sebagian besar uang 1MDB kembali … Kami harus meningkatkan kepercayaan investor,” tekadnya.

Dr Mahathir Mohamad dan Dr Anwar Ibrahim membentuk koalisi oposisi bernama Pakatan Harapan (PH) pada 2017 lalu untuk menumbangkan PM Mohammad Najib Abdul Razak

Pemerintah baru juga akan mencabut pajak barang dan jasa yang diperkenalkan oleh Najib, meninjau investasi asing dan menghapus undang-undang yang “opresif dan tidak adil”, janji Mahathir.

Khoo Ying Hoi, seorang profesor studi internasional dan strategis di Universitas Malaya, mengatakan pemilu “telah membuktikan kepada kita bahwa kita bergerak melampaui politik rasial”.

“Ini benar-benar kekuatan rakyat melalui surat suara,” kata Khoo. (S)

Sumber: Aljazeera

Baca Juga