Turki Usir Duta Besar ‘Israel’

Presiden Recep Tayyip Erdogan (kanan) dan Perdana Menteri penjajah Benjamin Netanyahu

ANKARA (SALAM-ONLINE): Turki mengusir duta besar penjajah “Israel” pada Selasa (15/5/2018). Pengusiran dilakukan setelah pasukan penjajah Zionis tersebut membunuh 62 warga Palestina saat unjuk rasa di perbatasan Jalur Gaza menentang penjajahan/pendudukan dan pemindahan kedutaan AS ke Yerusalem (Al-Quds), Senin (14/5).

Turki menjadi salah satu negara pengecam paling lantang atas kekerasan “Israel” terhadap unjuk rasa warga Palestina di Gaza. Turki juga menarik duta besarnya dari Tel Aviv dan Washington, serta meyerukan pertemuan darurat negara-negara Islam, Jumat (18/5) mendatang.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut pertumpahan darah, Senin (14/5) di Gaza, sebagai yang paling mematikan bagi warga Palestina sejak perang Gaza pada 2014. Erdogan juga menyebut Zionis “Israel” sebagai teroris. Turki menyatakan tiga hari berkabung.

“Duta besar ‘Israel’ diberitahu bahwa utusan kami untuk ‘Israel’ dipanggil kembali untuk konsultasi dan diberitahu bahwa akan lebih baik baginya untuk kembali ke negaranya untuk beberapa waktu,” kata sumber Kementerian Luar Negeri Turki.

Juru bicara pemerintah Turki, Bekir Bezdag, mengatakan kepada parlemen, Turki menganggap Amerika Serikat sama-sama bertanggung jawab atas kekerasan Senin lalu.

“Darah orang-orang Palestina yang tidak bersalah ada di tangan Amerika Serikat,” katanya. “Amerika Serikat adalah bagian dari masalah, bukan solusi.”

Hubungan Ankara dengan Washington, dua sekutu NATO, sangat tegang atas pemindahan kedutaan itu. Begitu pula terkait ketidaksepakatan mengenai penempatan militer di Suriah utara dan kasus pengadilan terhadap warga negara Turki dan Amerika Serikat di masing-masing negara.

Terdapat demonstrasi melawan “Israel” di Istanbul dan Ankara. Edogan, yang berkampanye untuk pemilihan presiden dan parlemen bulan depan, mengatakan unjuk rasa akan digelar pada Jumat (18/5) untuk memprotes pembunuhan atas warga Palestina tersebut.

Persoalan Palestina menggerakkan banyak orang Turki, termasuk pemilih nasionalis dan religius, untuk membentuk basis dukungan terhadap Etdogan.

Perdana Menteri penjajah, Benjamin Netanyahu, mengatakan di Twitter, Edogan tidak dalam posisi untuk mengajarkan moralitas kepada mereka, karena dia mendukung gerakan Islam Palestina, Hamas, yang memerintah Gaza.

“Tidak ada keraguan bahwa dia (Erdogan) memahami terorisme dan pembantaian,” kata Netanyahu.

Erdogan mencuit kembali dengan mengatakan bahwa Netanyahu adalah pemimpin Apartheid yang telah menduduki tanah rakyat yang tidak berdaya selama 70 tahun yang berarti melanggar resolusi PBB.

“Ingin pelajaran dalam kemanusiaan? Baca Sepuluh Perintah Tuhan,” tegas Erdogan.

Hubungan dua kekuatan kawasan itu menjadi sulit. Pada 2010, marinir penjajah “Israel” menyerbu kapal bantuan kemanusiaan Turki di Laut Gaza, membunuh 10 aktivis Turki dan menyebabkan pemutusan hubungan diplomatik yang berlangsung hingga 2016.

Bozdag mengatakan kepada parlemen demonstrasi yang direncanakan di Istanbul akan sekali lagi menunjukkan bahwa orang-orang Turki tak akan tinggal diam dalam menghadapi ketidakadilan dan kekejaman. Dikatakan, Turki membela para korban (warga Palestina) dalam menghadapi kejahatan (penjajah Zionis).

Perdana Menteri Turki Binali Yildirim juga mengatakan, negara Islam harus meninjau hubungan mereka dengan penjajah “Israel” setelah tindak kekerasan, Senin lalu. (*)

Sumber: Antara

Baca Juga