Mahathir: “Malaysia Negara Islam Fundamentalis”

Dr Mahathir Mohamad, Perdana Menteri ke-4 dan ke-7 Malaysia

SALAM-ONLINNE: Malaysia bukan negara “Islam Moderat” seperti yang umumnya dirasakan oleh banyak orang asing, tetapi sebuah negara Islam “fundamentalis”, demikian kalimat tegas Perdana Menteri Dr Mahathir Mohamad belasan tahun lalu itu dilansir kembali oleh malaysia-today.net, Ahad (3/6//2018).

“Banyak negara non-Muslim yang menganggap Malaysia sebagai negara ‘Islam moderat’. Saya harus menjelaskan kepada mereka bahwa kami tidak ‘moderat’. Kami adalah negara Islam fundamentalis,” tegas Mahathir, di Gedung Agustus.

Mahathir menyatakan itu, menanggapi pertanyaan tambahan dari Ahmad Zahid Hamidi di majelis rendah. Menurut Mahathir, orang-orang asing terkejut dengan penegasannya karena mereka berpikir “fundamentalis” adalah orang-orang yang melakukan kekerasan dan “terorisme”.

“Bagi saya, jika kita berpegang pada dasar-dasar Islam, kita tidak bisa menjadi buruk karena Islam menyeru kita untuk berbuat baik, untuk memperkuat persaudaraan di antara kita sendiri. Oleh karenanya, tidak salah jika menjadi Muslim fundamentalis,” katanya.

Dia menambahkan bahwa dia bangga dianggap sebagai seorang Muslim fundamentalis.

“Saya telah mengatakan ini 15 tahun yang lalu (17 Juni 2002, red) dan diberitakan di surat kabar Amerika bahwa perdana menteri Malaysia adalah seorang fundamentalis. Saya tidak malu menjadi seorang fundamentalis. Saya seorang fundamentalis,” ungkap Mahathir yang pertama kali terpilih sebagai Perdana Menteri Malaysia ke-4 pada 1981 hingga 2003.

Dia juga mengatakan bahwa Malaysia adalah negara yang mempraktikkan ajaran-ajaran dasar Islam dan bukan interpretasi Islam yang dibuat oleh ulama politik.

Perbedaan tidak penting

Sementara itu, wakil ketua Democratic Action Party (DAP—partai sekuler beraliran kiri dengan asas demokrasi sosialisme yang berbasis kaum urban dan non-Muslim dari etnis Cina dan India), Dr Tan Seng Giaw (DAP-Kepong) meminta perdana menteri untuk menunjukkan perbedaan antara negara Islam yang kontroversial dan negara Muslim.

“Perbedaan itu tidak penting. Yang penting adalah fakta bahwa dunia mengakui Malaysia sebagai negara Islam,” tegas Mahathir yang kembali terpilih sebagai perdana menteri ke-7 Malaysia dalam pemilu 9 Mei 2018 lalu dalam usia 92 tahun.

“Saya diundang oleh Paus (John) Paul II karena saya diakui sebagai pemimpin negara Islam. Jika DAP tidak dapat menerima itu, kami tidak peduli. Yang penting dunia menerima itu, termasuk Paus,” tambahnya.

Namun, bagaimanapun, Mahathir menjelaskan, non-Muslim tidak akan ditindas di bawah negara Islam.

Muslim di Malaysia tunduk pada hukum Syariah Islam

“Jika kita mengikuti prinsip-prinsip pemerintahan Islam, non-Muslim akan memiliki tempat (di negara Islam). Apa dasar yang dimiliki DAP karena merasa tertindas ketika saya mengumumkan bahwa Malaysia adalah negara Islam?”

Dia (DAP) bertanya bahwa konstitusi federal belum diubah.

Perdana menteri menjelaskan, Malaysia dianggap sebagai “model negara Islam” bahkan sebelum ia membuat pernyataan tahun lalu bahwa Malaysia adalah negara Islam.

Pengumuman perdana menteri itu menyebabkan kegelisahan di beberapa bagian komunitas non-Muslim.

DAP berada di garis depan kampanye menentang pengumuman soal negara Islam dari perdana menteri tersebut. DAP mengklaim bahwa itu adalah pelanggaran terhadap kontrak sosial Malaysia dan konstitusi federal.

Pemerintah telah menolak klaim tersebut dengan mengatakan bahwa konstitusi belum diubah. Ini menekankan bahwa Islam telah diterima sebagai agama resmi federasi, tetapi non-Muslim bebas untuk mempraktikkan agama masing-masing.

Awal bulan ini, Ketua DAP, Lim Kit Siang ditangkap karena dinilai menghasut dengan membagikan selebaran yang mengkritik pernyataan “negara Islam” dari Mahathir tersebut.

Sebenarnya apa yang diungkapkan Mahathir terkait ‘Malaysia Negara Islam Fundamentalis’, jauh sebelum ini sudah pernah disampaikannya. Utusan Online, 18 Juni 2002, sudah menulis bahwa sebagai Perdana Menteri Malaysia Mahathir menyatakan tak pernah merasa malu mengaku demikian.

Malah, katanya, dia gembira kerana jika diterangkan kepada masyarakat Barat definisi fundamentalis Islam dan asas-asas Islam, mereka setuju bahwa selama ini mereka berpegang kepada definisi yang tidak tepat.

“Jadi kita akan terus menjelaskan bahawa asas Islam memang baik dan siapa yang ikut akan jadi baik dan berjaya. Inilah hasrat saya di Malaysia dan saya amat gembira kerana dapat membuat penjelasan kepada pemimpin bukan Islam yang tidak paham mengenai Islam,” tutur Mahathir seperti dikutip Utusan Online, 18 Juni 2002.

Mahathir bahkan turut bersyukur karana selepas peristiwa 11 September tahun 2001 (Ambruknya menara kembar WTC di New York, red), banyak orang tertarik untuk mengetahui tentang Islam. Kata Mahathir, ini adalah penting bagi mereka untuk mendapatkan penjelasan yang tepat mengenai fundamentalis Islam.

“Dan jangan mereka anggap mereka yang baik adalah kerana menjadi Islam yang sederhana (moderat), karena orang yang baik adalah mereka yang memegang ajaran Islam yang  sebenarnya,” ujarnya.

Pandangan dan pendirian Malaysia mengenai Islam dan kekerasan, terang Mahathir, telah disampaikan dengan jelas dan disambut baik oleh Presiden Bush dan anggota kongres AS yang sempat ditemuinya saat itu.

Mahathir menekankan bahwa kekerasan tidak sepatutnya dikaitkan dengan Islam atau negara-negara Islam saja, karena penganut agama lain juga terlibat dengan kekerasan, tetapi aksi kekerasan mereka tidak dikaitkan dengan agama mereka.

“Saya telah menjelaskan bahwa kekerasan di Palestina disebabkan wilayah orang Palestina dirampas untuk mendirikan ‘negara Israel’ dan juga karena ‘Israel’ melanggar dan menduduki Wilayah Palestina secara tidak sah,” ujar Mahathir.

“Yang menentang ‘Israel’ bukanlah orang Islam semata, tetapi juga orang Arab Kristen,” imbuhnya.

Mahathir menegaskan, penindasan terhadap orang Palestina yang mayoritas Muslim menyebabkan orang Islam lainnya merasa marah dan membalas dengan serangan “berani mati” karena tidak ada jalan lain bagi mereka.

Malaysia, menurut Mahathir, prihatin terhadap nasib rakyat Palestin dan mengutuk sekeras-kerasnya segala kebiadaban yang dilakukan oleh penjajah “Israel” terhadap rakyat Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza yang jelas-jelas melanggar hak asasi manusia dan hukum internasional.

Malaysia juga, katanya, akan terus menyeru masyarakat internasional supaya mendesak pihak “Israel” untuk menghentikan semua aksi militer dan mundur sepenuhnya dari kawasan Palestina yang diduduki serta mematuhi semua keputusan (PBB). (S)

Sumber: http://www.malaysia-today.net/2018/06/03/malaysia-a-fundamentalist-islamic-country-says-mahathir/ 

http://ww1.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2002&dt=0618&pub=Utusan_Malaysia&sec=Muka_Hadapan&pg=mh_05.htm

Baca Juga