Presiden Erdogan: Kami Akan Boikot Produk Elektronik Amerika

ANKARA (SALAM-ONLINE): Presiden Recep Tayyip Erdogan pada Selasa (14/8/2018) mengumumkan Turki akan memboikot produk elektronik Amerika Serikat (AS).

Erdogan menyampaikan pengumuman itu dalam pidatonya di sebuah simposium yang diselenggarakan oleh Yayasan Penelitian Politik, Ekonomi dan Sosial (SETA) pada ulang tahun ke-17 berdirinya Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Party) yang tengah memerintah saat ini.

“Kami akan memboikot produk elektronik Amerika,” tegas Erdogan seperti dilansir kantor berita Anadolu, Selasa (14/8). Ia menyatakan bahwa Turki akan menghasilkan versi yang lebih baik dari setiap produk yang sebelumnya dibeli dengan mata uang asing dan mengekspornya.

“Mereka tidak ragu untuk menggunakan ekonomi sebagai senjata melawan kami. Mereka (juga) mencoba (melawan Turki) di bidang diplomatik atau militer dan berupaya untuk menabur ketidakstabilan sosial dan politik (Turki),” kata Erdogan.

Turki dan AS saat ini mengalami hubungan yang memburuk setelah Washington memberlakukan sanksi pada Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu dan Menteri Kehakiman Abdulhamit Gul karena tidak melepaskan Pendeta Amerika Andrew Brunson yang menghadapi tuduhan melakukan aksi terorisme di Turki.

Presiden AS Donald Trump pada Jumat (10/8) meningkatkan serangannya ke Turki dengan menggandakan tarif AS pada impor aluminium dan baja Turki menjadi masing-masing 20 dan 50 persen.

Erdogan mengatakan, Turki sedang menghadapi “serangan ekonomi”. Namun, ujar Erdogan, “Negara kita saat ini memiliki salah satu sistem perbankan yang paling kuat di dunia dalam segala hal.”

Erdogan mengatakan, alasan “serangan ekonomi” tidak ada hubungannya dengan ekonomi Turki. Tetapi di balik serangan itu ada “beberapa rencana lain”.

Untuk melawan serangan ini, Erdogan menekankan langkah ekonomi dan politik.

“Kami akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam ekonomi … Poin kedua, dan yang paling signifikan bagi saya, adalah menjaga sikap politik kami kuat,” tegas Erdogan.

Dia juga mendesak pebisnis Turki untuk melakukan lebih banyak ekspor. “Kita harus menghasilkan lebih banyak, mengekspor lebih banyak,” katanya.

Sementara Juru bicara kepresidenan Ibrahim Kalin pekan lalu mengatakan, fakta bahwa Lira Turki kehilangan nilainya terhadap dolar AS adalah sebuah tantangan.

“Tetapi itu adalah tantangan yang siap dihadapi oleh Turki. Namun, masalah ini lebih besar dari sekadar perang mata uang,” ungkap Kalin. Menurutnya, ancaman dan sanksi dari AS terhadap Turki tidak akan berhasil.

“AS menjalankan risiko kehilangan Turki secara keseluruhan. Seluruh publik Turki menentang kebijakan AS yang mengabaikan tuntutan keamanan sah Turki,” ujar Kalin.

“Ancaman, sanksi dan intimidasi terhadap Turki tidak akan berhasil. Ini hanya akan meningkatkan resolusi Turki. Juga akan semakin mengisolasi AS di Turki dan di kancah internasional,” tulis Kalin dalam kolom berbahasa Inggris, Harian Sabah, sebagaimana dikutip kantor berita Anadolu, Sabtu (11/8).

Pernyataan Kalin datang sehari setelah Presiden AS Donald Trump meningkatkan serangannya ke Turki dengan menaikkan tarif AS pada impor aluminium dan baja Turki masing-masing 20 persen dan 50 persen.

Kalin mengatakan AS terlibat dalam perselisihan dengan Kanada, Meksiko, Kuba, Cina, Rusia, NATO, Jerman dan negara-negara lain sebagian besar karena alasan domestik.

“Ini hanya merusak kredibilitas AS sebagai mitra dan sekutu yang andal,” tambah Kalin.

Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa konflik Turki dengan pemerintahan Trump terkait atas ditahannya seorang pendeta AS yang terlibat dalam kudeta tahun lalu di Turki dan fluktuasi di pasar mata uang tidak akan mengurangi tekad Turki.

Dia menambahkan bahwa upaya Turki untuk menyelesaikan masalah Brunson melalui saluran diplomatik telah ditolak oleh pihak AS.

“Niat Turki yang baik dan pendekatan yang berorientasi pada hasil telah dikesampingkan oleh sikap ideologis dan pendekatan ‘cara saya’ dari Gedung Putih (Trump),” terangnya. (*)

Sumber: Anadolu Agency

Baca Juga