Pers Nasional tak Beritakan Reuni 212, Rocky Gerung: Penggelapan Sejarah

Pengamat politik dan pakar filsafat Rocky Gerung menilai pers nasional yang tidak memberitakan acara Reuni Akbar 212 telah menggelapkan sejarah. “Bayangkan misalnya kalau TVOne pada waktu itu jensetnya mati, listriknya korslet, maka tidak ada yang memberitakan peristiwa bersejarah itu,” ucapnya. 

Rocky Gerung

JAKARTA (SALAM-ONLINE): Pengamat politik dan pakar filsafat Rocky Gerung menyebut media massa yang tak memberitakan atau tidak memberikan porsi berita yang layak terhadap acara Reuni Akbar 212 sebagai ‘penggelapan sejarah’.

Rocky menyatakan hal itu di acara Indonesia Lawyres Club (ILC) TVOne yang mengangkat topik hangat terkait Reuni Akbar 212 yang digelar di Monas Jakarta pada Ahad (2/12/2018) lalu.

Dalam acara yang dipandu Karni Ilyas itu, Rocky menyoroti pers nasional yang dinilainya menggelapkan sejarah karena tidak memberitakan atau tak memberi porsi yang layak terhadap peristiwa Reuni 212 yang dinilainya bersejarah.

“Hanya TVOne yang masih konsisten sebagai pers. Ini peristiwa sejarah. Bayangkan misalnya kalau TVOne pada waktu itu jensetnya mati, listriknya korslet, maka tidak ada yang memberitakan peristiwa bersejarah itu,” kata Rocky.

Dia menyatakan, andai pers nasional tidak memberitakan peristiwa 212, itu artinya pers memalsukan sejarah.

“Karena orang enggak pernah tahu ada peristiwa dengan kumpulan orang sebanyak itu, dengan ketertiban, dengan kepemimpinan intelektual, tapi tidak dimuat oleh pers. Mau disebut apa itu? Bukankah itu disebut penggelapan sejarah oleh pers Indonesia?” tutur Rocky mempertanyakan.

Rocky menyebut pers saat ini layaknya sudah jadi humas pemerintah.

“Akhirnya pers kita itu sekadar jadi humas pemerintah. Baca pers mainstream itu kayak brosur pemerintah,” ujarnya. (*)

Baca Juga