Akhirnya ‘Israel’ Akui Pasukannya Bunuh Hind Rajab yang Berusia 5 Tahun dan Keluarganya

Hind Rajab (5 tahun) dan Enam anggota keluarganya beserta 2 petugas medis dibunuh pasukan “Israel” pada Februari 2024

SALAM-ONLINE.COM: Militer penjajah “Israel” akhirnya mengakui bahwa merekalah yang membunuh Hind Rajab, seorang anak berusia lima tahun beserta keluarganya di Kota Garza dua setengah tahun yang lalu. Pasukan penjajah itu melepaskan tembakan ke arah kendaraan yang ditumpangi Hind Rajab bersama keluarganya.

Pihak militer penjajah yang dikutip Middle East Eye (MEE), Rabu (19/8/2026), menyatakan akan memulai penyelidikan pidana terkait terbunuhnya sembilan orang pada 29 Januari 2024 itu, termasuk Hind.

Pada tanggal tersebut, bocah perempuan Palestina itu awalnya selamat dari serangan “Israel” terhadap kendaraan yang membunuh beberapa anggota keluarganya.

Setelah serangan artileri “Israel”, Hind menerima telepon dari Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS) dan meminta petugas medis untuk datang menyelamatkannya.
Usai berkoordinasi dengan tentara “Israel”, sebuah ambulans dikirim untuk mengevakuasinya. Ambulans tersebut kemudian ditembaki oleh pasukan “Israel”, yang menewaskan petugas medis Yousef Zeino dan Ahmed al-Madhoun.

Dua belas hari setelah serangan itu, jenazah Hind, enam anggota keluarganya, dan dua petugas medis ditemukan.

PRCS menuduh pasukan “Israel” dengan sengaja menargetkan ambulans saat tiba di lokasi kejadian, meskipun sebelumnya telah dilakukan koordinasi untuk memfasilitasi misi penyelamatan tersebut.

Ibunya, Wissam Rajab, saat itu mengatakan kepada Middle East Eye bahwa keluarga mereka terpisah ketika mencoba melarikan diri dari kawasan yang sedang digempur serangan hebat “Israel” tersebut.

Akibat cuaca buruk, Wissam menempatkan putrinya di dalam kendaraan bersama sang paman, istri pamannya, dan anak-anak mereka. Sementara anggota keluarga lainnya melarikan diri dengan berjalan kaki.

Setelah mendengar suara tembakan di area tersebut, pihak keluarga menghubungi Bulan Sabit Merah untuk melaporkan bahwa mobil mereka sedang ditembaki.

Awalnya, Wissam mengira semua orang di dalam mobil telah tewas, hingga ia menerima telepon dari Layan Hamadeh, sepupunya yang berusia 15 tahun, yang berkata: “Hind dan aku terluka, dan seluruh keluargaku tewas; aku tidak ingin mati. Tolong panggilkan ambulans untuk menyelamatkan kami. Aku takut. Tank-tank itu berada 500 meter dariku.”

Sambungan telepon terputus, dan Wissam mengira mereka berdua telah tewas. Namun, saat ia menelepon kembali, Hind menjawab dan berkata: “Aku masih hidup, tapi Layan telah gugur. Ibu, aku takut, mereka semua sudah meninggal. Datang dan jemput aku.”

PRCS mengerahkan Zeino dan Madhoun, dua petugas medis, untuk menyelamatkan Hind. Petugas medis tersebut mengatakan bahwa mereka berjarak 15 menit perjalanan dan sedang mencarinya, namun kemudian sambungan tgelepon terputus dan tim kehilangan kontak.

PRCS merilis rekaman audio dari percakapan telepon terakhir dengan Hind, yang memperdengarkan permohonan terakhirnya di tengah suara rentetan tembakan.

“Aku takut gelap, jemput aku,” ujarnya.

Baca Juga

Menurut Rajab, Hind berkata: “Jangan tinggalkan aku, aku kedinginan, lapar, dan takut.”

*”Israel” nyatakan ‘tidak ada pelanggaran pidana’ dalam tiga kasus lainnya*

Kematian Hind memicu kecaman luas, dan namanya menjadi sorotan utama di berbagai pemberitaan dunia.

“Akibat dugaan kegagalan dalam koordinasi pergerakan ambulans Bulan Sabit Merah Palestina, telah diputuskan untuk memulai penyelidikan pidana atas insiden tersebut oleh Divisi Investigasi Kriminal Polisi Militer,” demikian pernyataan militer Israel pada Rabu (19/8).

Disebutkan bahwa penyelidikan tersebut akan dipimpin oleh Divisi Investigasi Kriminal Polisi Militer “Israel”—badan utama yang menyelidiki dugaan pelanggaran oleh pihak militer.

Saat peristiwa pembunuhan itu terjadi, militer Israel menyatakan bahwa pasukannya tidak berada di kawasan Tel al-Hawa, Kota Gaza, tempat insiden tersebut berlangsung.

Namun, sejumlah laporan media menyebutkan adanya tank-tank “Israel” di kawasan itu.

Pada saat mobil dan ambulans tersebut ditemukan, militer Israel sempat menyatakan bahwa mereka “melakukan operasi terhadap target-target teror” di sejumlah wilayah, termasuk Tel al-Hawa. Pihak militer kemudian menghapus siaran pers tersebut dari situs webnya.

Sebuah film mengenai peristiwa pembunuhan itu, *The Voice of Hind Rajab*, masuk dalam nominasi Oscar tahun ini.

Militer “Israel” juga mengumumkan pembukaan penyelidikan pidana terkait kematian 15 pekerja bantuan di Tel al-Sultan, wilayah selatan Gaza, pada Maret 2025.

Akan tetapi, untuk tiga kasus lainnya, militer menyatakan tidak terdapat “dugaan yang masuk akal mengenai adanya pelanggaran pidana”.

Hal itu mencakup tewasnya dua pegawai Doctors Without Borders (MSF) akibat tindakan “Israel” pada November 2023, tewasnya dua pekerja MSF lainnya pada Februari 2024, serta tewasnya tujuh pegawai World Central Kitchen pada April 2024.

Sejak Oktober 2023, saat genosida Israel di Gaza dimulai, pasukan Israel telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 174.000 orang lainnya. (mus)

Baca Juga