Ini Sosok Ahmad Hassoun, ‘Eks Mufti Bom Barel’ Rezim Assad yang Dituntut Hukuman Mati

SALAM-ONLINE.COM: Putusan dalam kasus pidana terhadap Ahmad Badreddin Hassoun, seorang tokoh “Muslim” terkemuka pada era rezim Suriah Basyar Assad, dijadwalkan akan diumumkan di Damaskus pada Senin (24/8/2026), lapor Al Jazeera.
Jaksa penuntut telah menuntut hukuman mati kepada Hassoun. Dia diadili oleh Pengadilan Pidana Keempat di Damaskus—pengadilan yang berfokus pada kasus-kasus keadilan transisi. Persidangannya dimulai pada 25 Juni lalu.
Hassoun, yang menjabat sebagai Mufti Agung Suriah antara tahun 2005 – 2021, ditangkap di bandara Damaskus pada Maret 2025, setelah ia muncul dari persembunyiannya sebulan sebelumnya.
Ia dikenal karena menggunakan bahasa yang merendahkan martabat manusia terhadap pihak-pihak yang menentang rezim Assad, dan diyakini telah menjalin hubungan erat dengan para pejabat negara serta aparat keamanan selama masa rezim Assad berkuasa.
Menjelang pembacaan putusan, berikut adalah segala hal yang perlu Anda ketahui tentang Hassoun.
Siapakah dia?
Hassoun lahir di Aleppo pada tahun 1949. Ayahnya adalah seorang syekh terkemuka.
Ia menyampaikan khutbah di wilayah Aleppo dan pernah menjabat sebagai anggota parlemen dari tahun 1990 hingga 1998.
Pada tahun 2005, ia ditunjuk oleh mantan Presiden Suriah Basyar Assad sebagai Mufti Agung Suriah. Ia dikenal karena dukungannya terhadap dialog antaragama serta pemisahan antara agama dan negara.
Ketika pergolakan Suriah mulai meletus pada tahun 2011, Hassoun menyatakan dukungannya kepada Assad, seraya menyalahkan negara-negara asing karena mencampuri urusan Suriah dan mendukung apa yang ia sebut sebagai “terorisme”.
Para kritikus menjulukinya “mufti bom barel” karena dukungannya yang gigih terhadap pembantaian rakyat Suriah yang dilakukan rezim Assad dengan “menghalalkan bom barel”. Retorikanya sangat keras terhadap pihak-pihak penentang rezim tersebut. Putranya sendiri tewas dibunuh pada tahun 2011.
Hassoun melontarkan serangkaian pernyataan kontroversial yang mengikis popularitas dan pamor politiknya. Tanpa memberikan penjelasan, Assad sendiri kemudian menghapuskan jabatan mufti agung pada tahun 2021.
Ketika rezim Assad tumbang pada Desember 2024, Hassoun bersembunyi. Sempat beredar kabar bahwa ia telah melarikan diri dari Suriah. Namun ia ditangkap di Bandara Internasional Damaskus pada Maret 2025 saat hendak menaiki penerbangan menuju Amman, Yordania.
Mengapa ia menjadi sosok terkemuka?
Hassoun dikenal karena khutbah Jumatnya di Aleppo serta perannya sebagai pendukung setia rezim Assad selama delapan tahun masa jabatannya di parlemen.
Penunjukan Hassoun sebagai Mufti Agung Suriah secara umum dinilai terjadi karena rezim Assad menganggapnya sebagai sosok yang penurut dan tidak mengancam.
Hubungan Hassoun dengan rezim tersebut memburuk bahkan sebelum rezim itu digulingkan pada Desember 2024. Hal ini diyakini disebabkan oleh kemitraan bisnisnya dengan sepupu Assad yang merupakan seorang miliarder, Rami Makhlouf—sosok yang kerajaan bisnisnya disita oleh rezim Assad pada tahun 2020.
Ia juga dinilai tidak memiliki wibawa keilmuan yang setara dengan banyak tokoh Islam lainnya di Suriah.
Apa saja fatwa atau pernyataan paling kontroversial darinya?
Hassoun melontarkan ancaman terhadap negara-negara Eropa dalam sebuah pidato yang disiarkan televisi pada tahun 2011; ia memperingatkan bahwa jika mereka menyerang negaranya, Lebanon dan Suriah akan membalas dengan melatih warga mereka untuk menjadi pelaku bom bunuh diri.
Ia secara terbuka mendukung intervensi Iran dan Rusia demi membela Assad, serta memuji komandan Pasukan Quds dari Garda Revolusi Iran, Qassem Soleimani, yang memimpin pasukan Teheran di Suriah.
Soleimani sangat dibenci oleh rakyat Suriah karena perannya dalam mendukung Assad. Hassoun menyebutnya sebagai sosok “saleh” yang “hanya bertempur di tempat keberadaan musuh-musuh Tuhan dan umat manusia: Ia tidak pernah mengangkat tangan terhadap seorang Muslim pun; ia tidak pernah mengacungkan senjata di hadapan seorang Muslim pun”.
Menurut Amnesty International, Hassoun ditunjuk oleh Assad untuk memberikan persetujuan atas eksekusi tahanan di penjara Sednaya yang terkenal kejam di sebelah utara Damaskus. Antara tahun 2012 – 2017, ia dilaporkan telah menyetujui eksekusi terhadap 13.000 orang tahanan.
Puncak kontroversi terjadi saat upacara pemakaman ikon dunia Arab sekaligus penyanyi Suriah, Sabah Fakhri. Kala itu, Hassoun mengklaim bahwa sebuah ayat dalam Al-Qur’an bermakna Tuhan menciptakan umat manusia di Suriah, serta mengecam keras para pengungsi yang telah melarikan diri dari negara tersebut. Tak lama kemudian, jabatan Mufti Agung di Suriah dihapuskan. Jabatan ini baru diadakan kembali setelah jatuhnya kekuasaan Assad.
Atas tuduhan apa Hassoun diadili?
Hassoun menghadapi berbagai tuduhan, termasuk menghasut kekerasan serta memberikan legitimasi keagamaan dan politik bagi rezim Assad beserta sekutu dan milisi yang bertempur demi kepentingan rezim tersebut.
Bukti-bukti yang diajukan dalam persidangan Hassoun mencakup dugaan keterkaitannya dengan lingkaran dalam mantan rezim Suriah, baik dalam kapasitas profesional maupun pribadi. Hal ini termasuk hubungannya dengan Assad dan mantan kepala intelijen yang dikenal luas, Ali Mamlouk.
Ia juga dituduh menjalin hubungan dengan perwira tinggi militer dan pemimpin milisi yang bersekutu dengan Assad.
Jaksa juga menduga bahwa ia menyampaikan khutbah di hadapan pasukan Angkatan Darat Suriah di era Assad untuk mendukung rezim tersebut serta menyerukan kekerasan terhadap wilayah-wilayah yang menjadi basis kelompok oposisi. Selain itu, ia dituduh menghasut kekerasan terhadap warga sipil dan pengungsi di wilayah oposisi, mendesak warga sipil untuk meninggalkan rumah mereka, mengancam penduduk provinsi Idlib dengan kematian atau pengungsian paksa, memuji tokoh-tokoh rezim yang terlibat dalam kejahatan perang—termasuk mantan komandan Garda Republik Suriah, Brigadir Jenderal Issam Zahreddine—serta mendukung intervensi Rusia dan Iran dalam pembantaian rakyat Suriah dan mendukung Soleimani beserta keterlibatannya dalam kejahatan perang di Suriah.
Apa yang terungkap dari persidangan lain yang baru-baru ini digelar terkait Suriah?
Assad, saudaranya Maher, serta sepupu mereka Wassim Assad dan Atef Najib, baru-baru ini semuanya dijatuhi hukuman mati. Assad bersaudara tersebut—yang melarikan diri ke Rusia setelah kelompok pejuang revolusi menguasai Damaskus pada Desember 2024—disidangkan secara in absentia (tanpa kehadiran terdakwa).
Kini pertanyaannya adalah apakah Hassoun, jika dinyatakan bersalah, akan menerima hukuman serupa? (ib)