Sebut Aliansi Makkah Akan Ubah Peta Permainan, Menlu Turki Respons Serangan Houthi Yaman ke Saudi

Menter Luar Negeri Turki Hakan Fidan

SALAM-ONLINE.COM: Aliansi Makkah yang melibatkan tiga negara ini akan menjadi “platform yang sangat mengubah peta permainan” (game-changer), demikian dinyatakan Menteri Luar Negeri Türki Hakan Fidan saat berbicara kepada media penyiaran Türki, NTV, Sabtu (19/9/2026) terkait mengenai isu-isu kebijakan luar negeri Turki sebagaimana dikutip Anadolu, Ahad (20/9).

Ia mengatakan bahwa inisiatif Aliansi ini telah mencapai tahap lanjut dengan upaya yang sedang dilakukan untuk mendirikan kantor pusat serta penugasan personel.

Fidan mengatakan terdapat “tekad yang sangat kuat” di balik aliansi (Pakta Pertahanan Bersama) yang dibentuk di Makkah bulan lalu antara Türki, Arab Saudi, dan Pakistan. Ia mengungkapkan, Turki sedang berupaya mewujudkan tekad politik tersebut menjadi tindakan nyata.

“Aliansi Makkah benar-benar berada pada tahap yang baik. Ada tekad yang sangat kuat yang telah dikemukakan. Kami berupaya sekuat tenaga untuk mewujudkan tekad ini menjadi tindakan nyata,” kata Fidan.

“Aliansi Makkah akan menjadi platform yang sangat mengubah peta permainan,” tekadnya.

Fidan mengatakan langkah-langkah menuju pelembagaan aliansi tersebut sedang berlangsung, khususnya upaya pembentukan sekretariat sebagaimana direncanakan dalam kesepakatan serta markas besar militer yang berafiliasi dengannya.

Ia menyebutkan bahwa persiapan rinci mengenai kedua struktur tersebut “hampir rampung” dan ketiga negara telah mencapai kesepahaman bersama mengenai teknis operasionalnya.

Menurut Fidan, tahap selanjutnya adalah mengerahkan personel dan mengoperasionalkan markas besar.

Ia mengatakan bahwa setelah langkah-langkah pelembagaan rampung, pembicaraan mengenai penerimaan anggota baru dapat dilakukan dengan dua negara pendiri lainnya.

“Ini adalah aliansi yang terbuka bagi negara-negara di kawasan ini,” ujarnya.

Fidan menyatakan bahwa inisiatif ini tidak dimaksudkan untuk membentuk blok regional baru yang menentang negara lain, melainkan untuk membangun kerangka pertahanan bersama yang berlandaskan pada kepemilikan regional.

Visi regional Turki, menurutnya, adalah menyatukan sebanyak mungkin negara guna menciptakan iklim saling percaya, menangani masalah-masalah kawasan secara lebih efektif, serta mencegah munculnya krisis baru.

“Titik tolak utama dari semua ini adalah upaya mencari solusi regional untuk masalah-masalah regional,” katanya.

Para Anggota Aliansi Memiliki Tanggung Jawab Satu Sama Lain

Menanggapi serangan terkini oleh kelompok Syiah Houthi Yaman terhadap Arab Saudi, Fidan menyatakan bahwa masalah ini telah berlangsung selama sekitar satu dekade. Ia menambahkan bahwa kesepakatan gencatan senjata sempat dicapai pada tahun 2022 sebelum ketegangan kembali memuncak menyusul pecahnya konflik Gaza.

Ia menyebutkan bahwa integritas wilayah, kedaulatan, dan infrastruktur Arab Saudi telah menghadapi serangan-serangan serius.

Berdasarkan perjanjian aliansi tersebut, ujar Fidan, negara-negara anggota memiliki tanggung jawab satu sama lain sebagai sekutu.

“Kami menunjukkan solidaritas terkait masalah ini,” katanya, seraya menambahkan bahwa para anggota aliansi sedang melakukan penilaian bersama terhadap situasi tersebut.

Fidan menyatakan bahwa Turki mengecam serangan yang menyasar Arab Saudi, khususnya yang ditujukan ke Makkah dan infrastruktur minyak negara tersebut.

Ia juga menegaskan bahwa Arab Saudi sebaiknya tetap berada di luar perselisihan yang sedang berlangsung antara Iran dan AS, seraya menyatakan bahwa negara itu tidak berniat terlibat dalam konfrontasi tersebut.

“Sebagai anggota Aliansi Makkah, kami memantau situasi ini dengan saksama,” ujarnya.

Fidan menambahkan bahwa konsultasi sedang berlangsung secara tertutup dan Türki tidak akan kesulitan memberikan respons jika Arab Saudi memiliki kebutuhan militer di bidang teknis tertentu.

Saat ditanya mengenai kritik dari “Israel”, Iran, India, dan Yunani yang menyebut aliansi tersebut hanya sebatas “di atas kertas”, Fidan menepis anggapan tersebut.

Ia berpendapat bahwa kritik dari negara-negara itu justru mencerminkan betapa pentingnya inisiatif tersebut bagi mereka, seraya menyebut beberapa komentar itu sebagai upaya disinformasi yang bertujuan mendiskreditkan aliansi tersebut.

Fidan juga merujuk pada pengalaman panjang Türki di NATO, dengan mengatakan bahwa sebuah aliansi tidak seharusnya dinilai hanya berdasarkan seberapa sering mekanisme pertahanan kolektifnya diaktifkan.

Ia menyatakan bahwa terlalu dini untuk menyebut Aliansi Makkah tidak efektif, mengingat kesepakatan tersebut baru ditandatangani bulan lalu dan langkah-langkah kelembagaan pun sudah mulai berjalan.

Serangan Netanyahu terhadap Turki Bertujuan Memperkuat Posisi Politiknya

Fidan juga menanggapi pernyataan terbaru Perdana Menteri penjajah Benjamin Netanyahu yang menyasar Turki. Menurutnya, Netanyahu berupaya memperkuat posisi politiknya di dalam negeri dan menampilkan dirinya sebagai sosok yang tak tergantikan.

“Permusuhan terhadap Turki juga merupakan dampak dari hal ini. Kami tidak menganggapnya remeh,” ujar Fidan.

“Israel” akan menggelar pemilihan umum parlemen dalam hitungan minggu, tepatnya pada 27 Oktober, dengan hasil jajak pendapat menunjukkan persaingan yang sangat ketat.

Baca Juga

Ia mengatakan bahwa Ankara memantau dengan cermat pernyataan Netanyahu, kebijakan “Israel”, serta kerja sama militer negara itu dengan negara-negara di kawasan tersebut.

Fidan menyatakan harapan Turki agar “Israel” menerapkan kebijakan luar negeri yang berlandaskan perdamaian, rasa saling menghormati, dan kerja sama, yang akan membawa manfaat baik bagi “Israel” maupun kawasan secara luas.

“Jika tidak, ‘Israel’ tak hanya akan semakin terisolasi, tetapi juga harus menanggung akibatnya bersama dengan kawasan ini,” ujarnya.

Fidan juga menuduh Netanyahu berupaya menciptakan ketidakstabilan berkepanjangan di Suriah—menyusul Lebanon dan Palestina—demi memperkuat posisi politik domestiknya dan menampilkan dirinya sebagai sosok yang tak tergantikan.

Namun, Fidan menegaskan bahwa Turki akan bertindak secara bijaksana dan tidak akan terpancing oleh apa yang ia sebut sebagai provokasi.

Ia menyatakan bahwa Turki tidak bertindak sendirian di kawasan tersebut dan senantiasa menjalin kemitraan dengan negara-negara di wilayah itu.

“Israel merupakan ancaman tidak hanya bagi kawasan ini, tetapi juga bagi dunia,” tambah Fidan, merujuk secara khusus pada kebijakan-kebijakan yang dijalankan oleh Netanyahu.

Ia mengatakan bahwa kekhawatiran internasional terhadap kebijakan-kebijakan tersebut semakin nyata, termasuk di kalangan negara-negara yang selama ini dianggap dekat dengan “Israel”.

Fidan menambahkan, Turki berharap bahwa arah perkembangan situasi kawasan saat ini, dalam jangka panjang, pada akhirnya akan berpihak pada rakyat Palestina.

Proses Integrasi Suriah

Terkait Suriah, Fidan menyatakan bahwa terdapat berbagai masalah yang memerlukan koordinasi erat antara Ankara dan Damaskus sejak Desember 2024—saat rezim Assad tumbang—termasuk mengenai rekonstruksi, persatuan, dan integritas wilayah Suriah, serta kerja sama dengan negara-negara kawasan.

Ia mengatakan bahwa Türki dan Suriah telah ditugaskan oleh presiden masing-masing untuk membentuk kelompok perencanaan bersama guna memantau secara cermat proyek-proyek bilateral dan bidang kerja sama lainnya.

“Apa pun yang terjadi di Suriah dan Irak berdampak langsung terhadap Türki,” ujar Fidan, seraya menambahkan bahwa stabilitas, perdamaian, dan pembangunan di kedua negara tersebut merupakan hal penting bagi Ankara.

Ia menyebutkan bahwa dirinya baru-baru ini membahas masalah-masalah tersebut dengan Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa dalam sebuah kunjungan ke Suriah, sekaligus menyampaikan pesan dari Presiden Türki Recep Tayyip Erdogan.

Fidan juga mengungkapkan bahwa Erdogan dan al-Sharaa sempat bertemu di sela-sela KTT NATO di Ankara pada Juli lalu, di mana mereka membahas stabilitas kawasan, potensi risiko, proses integrasi Suriah, serta upaya penanggulangan terorisme.

Mengenai proses pembubaran dan integrasi Pasukan Demokratik Suriah (SDF) ke dalam struktur negara dan militer Suriah, Fidan menyatakan adanya keinginan dari pihak-pihak terkait untuk memajukan proses tersebut secara terkendali.

Ia menilai pernyataan dan sikap yang diambil oleh pihak-pihak tersebut saat ini sebagai hal yang positif, namun menegaskan perlunya langkah-langkah konkret sebagai tindak lanjut.

Fidan mengatakan bahwa Türki memantau proses ini secara saksama melalui komunikasi dengan lembaga keamanan dan intelijen Suriah, termasuk memantau potensi risiko serta cara penanganannya.

Kebuntuan dalam perundingan Iran-AS

Menanggapi ketegangan regional yang terkait dengan Yaman dan Selat Bab el-Mandeb, Fidan menyebutkan adanya berbagai inisiatif diplomatik yang sedang berjalan, namun ia menekankan bahwa upaya-upaya tersebut harus menghasilkan kesepakatan yang dapat diterima oleh pihak-pihak terkait.

Ia menyatakan bahwa perundingan antara Iran dan AS telah mengalami kebuntuan selama beberapa bulan terakhir.

Menurut Fidan, salah satu dampak dari kebuntuan tersebut adalah meluasnya ketegangan—yang semula hanya melibatkan interaksi langsung antara kedua belah pihak—hingga mencakup situasi di Yaman dan Selat Bab el-Mandeb.

Ia mengatakan bahwa konfrontasi tersebut semakin rumit dan berisiko meluas hingga ke Arab Saudi.

Fidan menyatakan bahwa Turki memberikan perhatian khusus pada upaya untuk menuntaskan negosiasi antara AS dan Iran, namun mencatat adanya “ketidakpercayaan yang mendalam” di antara kedua belah pihak.

Ia menyebutkan bahwa Iran dan AS sempat mencapai kesepahaman bersama di Pakistan pada Juni lalu, namun kemudian muncul kendala dalam pelaksanaan kesepakatan kerangka kerja mereka.

Kedua belah pihak, tambahnya, kemudian mulai menafsirkan proses tersebut secara berbeda demi kepentingan masing-masing.

Fidan mengatakan bahwa usulan-usulan baru telah diajukan kepada pihak-pihak terkait dan berharap usulan tersebut dapat diterima.

Ia juga memperingatkan bahwa dampak ekonomi dari krisis regional yang berkepanjangan semakin sulit ditanggung oleh sejumlah negara.

Terdapat hambatan serius yang memengaruhi jalur pasokan energi, ujarnya, seraya menambahkan bahwa negara-negara seperti Turki—yang industri dan ekonominya sangat bergantung pada impor energi—sedang menghadapi tantangan ekonomi yang kian berat. (af)

Baca Juga