Fiqh Informasi dan Kode Etik NetzMU Jadi Panduan Berinteraksi di Dunia Digital

SALAM-ONLINE.COM: Pemuda Muhammadiyah Jatiasih Kota Bekasi melalui program Katanya Anak Muda (KAM) Academy menggelar Pelatihan Digital Literasi pada Ahad, 4 Oktober, di Gedung BLK Masjid Abdullah AbdulAziz Almani, Jatiasih, Bekasi.

Ketua Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Jatiasih Kota Bekasi, Jawa Barat, Rachmat Haryono menilai kehadiran “Katanya Anak Muda (KAM)” dan pelatihan digital literasi yang digelar melalui KAM Academy relevan dengan kebutuhan generasi muda di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat.

Pemuda Muhammadiyah Jatiasih Kota Bekasi melalui program Katanya Anak Muda (KAM) Academy menggelar Pelatihan Digital Literasi pada Ahad, 4 Oktober, di Gedung BLK Masjid Abdullah AbdulAziz Almani, Jatiasih, Bekasi.

Menurutnya, KAM tidak semestinya hanya menjadi ruang berkumpul bagi anak muda, tetapi juga dapat berkembang menjadi ruang untuk belajar, berdiskusi, berkreasi, dan mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan zaman.

“Menurut saya, kegiatan KAM dan pelatihan digital kemarin cukup bagus dan memang relevan dengan kebutuhan pemuda sekarang. Saya melihat KAM bukan hanya sebagai kegiatan untuk berkumpul, tetapi juga sebagai ruang untuk belajar, berdiskusi, dan menyiapkan pemuda agar lebih siap menghadapi perubahan zaman,” ujarnya.

Ia mengaitkan semangat tersebut dengan keteladanan KH Ahmad Dahlan dalam merespons perubahan zaman. Menurutnya, pendiri Muhammadiyah tersebut telah menunjukkan pentingnya kemampuan membaca perkembangan masyarakat melalui pendidikan yang memadukan ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum.

“Kalau kita belajar dari KH Ahmad Dahlan, beliau itu sudah memberikan contoh bagaimana kita harus membaca zaman. Ketika mendirikan sekolah modern, beliau tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga ilmu umum seperti sejarah, ilmu bumi, dan matematika,” katanya.

Menurutnya, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa umat Islam perlu memiliki bekal keagamaan yang kuat sekaligus menguasai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Artinya, umat Islam harus punya bekal agama, tetapi juga tidak boleh tertinggal dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” lanjutnya.

Pemuda Jangan Hanya Menjadi Pengguna Teknologi
Ia menilai pelatihan digital yang diselenggarakan KAM Academy merupakan bagian dari upaya membangun kemampuan pemuda agar tidak hanya menjadi konsumen teknologi.

“Zaman sekarang berubah sangat cepat. Kalau pemuda tidak mau belajar dan beradaptasi, kita bisa tertinggal,” ujarnya.

Menurutnya, kemampuan digital tidak cukup dipahami sebatas keterampilan menggunakan media sosial atau berbagai aplikasi. Teknologi harus dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan sesuatu yang produktif, baik dalam organisasi, dakwah, pendidikan maupun pengembangan diri.

“Jangan sampai pemuda hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi tidak tahu bagaimana memanfaatkannya untuk sesuatu yang lebih besar,” katanya.

Kegiatan ini juga menghadirkan Fajar Shadiq, S.Pd.I., S Sos.I., M.Si., pegiat literasi sekaligus jurnalis, sebagai narasumber, dengan mengangkat materi “Pengantar Literasi Digital: Bagaimana Informasi Membentuk Cara Kita Berpikir?”

Baca Juga

Dalam pemaparannya, Fajar menyoroti perubahan besar dalam ekosistem informasi. Masyarakat saat ini hidup dalam situasi ketika informasi datang dalam jumlah yang sangat besar dan dengan kecepatan yang sulit dikendalikan.

Persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana mendapatkan informasi, melainkan bagaimana menentukan informasi mana yang layak dipercaya, dipahami, dan dibagikan.

Menurut Fajar, banjir informasi dapat memengaruhi cara seseorang berpikir dan mengambil keputusan. Algoritma media sosial, judul yang provokatif, potongan video, narasi tanpa konteks, hingga informasi yang belum terverifikasi dapat membentuk persepsi publik sebelum seseorang sempat memeriksa kebenarannya.

Dengan demikian, literasi digital tidak berhenti pada kemampuan membedakan informasi benar dan salah, tetapi juga menyangkut kebijaksanaan dalam menentukan apa yang perlu disebarkan kepada orang lain.

Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya KAM Academy membekali generasi muda, khususnya Gen Z, agar tidak hanya mampu menggunakan teknologi digital, tetapi juga memiliki kemampuan untuk memahami, menilai, memverifikasi, dan mengambil keputusan secara kritis terhadap informasi yang mereka temui setiap hari.

Fikih Informasi sebagai Kompas Etika Digital
Dalam konteks masyarakat Muslim, Fajar juga mengajak peserta melihat persoalan literasi digital tidak hanya dari perspektif teknologi dan jurnalistik, tetapi juga dari perspektif etika keislaman.

Ia memperkenalkan prinsip-prinsip dalam Fikih Informasi Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah serta Kode Etik NetizMu sebagai salah satu rujukan etis bagi warga Muhammadiyah dalam berinteraksi di ruang digital.

Informasi, menurut kerangka tersebut, semestinya memiliki fungsi yang konstruktif, antara lain taklim atau memberikan edukasi, tanwir atau mencerahkan pikiran, taudhih/tabayyun atau mengklarifikasi kesimpangsiuran informasi, serta tajdid atau mendorong pembaruan.

Sebaliknya, ruang digital tidak seharusnya menjadi tempat untuk menyebarkan manipulasi fakta, kebohongan, perundungan (bullying), ajakan permusuhan, pamer berlebihan (flexing), maupun konten yang bertentangan dengan nilai moral dan agama.

Fajar juga menghubungkan prinsip literasi digital dengan landasan teologis dalam Islam. Salah satunya adalah perintah tabayyun dalam QS. Al-Hujurat ayat 6 yang mengingatkan pentingnya memeriksa sebuah berita sebelum mengambil tindakan.

Menurutnya, pengembangan KAM pada akhirnya perlu tetap berangkat dari semangat yang telah dicontohkan KH Ahmad Dahlan, yakni kemampuan membaca perubahan tanpa kehilangan pijakan nilai.

“Yang paling penting, semangatnya tetap seperti yang dicontohkan KH Ahmad Dahlan, yaitu bagaimana kita mampu membaca zaman, tetapi tetap punya pegangan dan nilai yang kuat,” pungkasnya.[]

Baca Juga