Gelar Pelatihan Digital KAM Academy Kenalkan AI sebagai ‘Asisten Pintar’ Masyarakat

SALAM-ONLINE.COM: Pemuda Muhammadiyah Jatiasih Bekasi sukses menyelenggarakan pelatihan literasi digital KAM Academy bertajuk “AI 101: Kenalan dengan Asisten Pintar” pada Ahad, 4 Oktober, bertempat di Gedung BLK Masjid Abdullah AbdulAziz Almanie.

Pelatihan ini menghadirkan Hady Rianto, Ketua Bidang Media, Komunikasi dan Informasi PCPM Jatiasih sekaligus Creative and Brand Strategist, sebagai narasumber utama. Dalam sesi ini, Hady mengurai secara mendalam pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) agar dapat dioptimalkan secara bijak, praktis, dan aman untuk mendukung berbagai aktivitas harian masyarakat.

Mengawali pemaparannya, Hady mengingatkan bahwa tanpa disadari masyarakat telah sering dibantu oleh teknologi AI dalam kehidupan sehari-hari, seperti fitur pengenal wajah di smartphone, rekomendasi video, saran produk di marketplace, navigasi peta digital, hingga pemilah pesan spam di email.

Meski demikian, ia menegaskan pentingnya merestrukturisasi pemahaman dasar mengenai teknologi ini.

“AI bukan ‘pengganti otak manusia’. AI adalah alat yang sangat pandai menemukan pola,” tegas Hady Rianto.

Ia menjelaskan bahwa AI merupakan teknologi yang membantu komputer menjalankan tugas-tugas yang biasanya membutuhkan kemampuan manusia.

Melalui Generative AI, komputer kini tidak lagi sekadar menunggu perintah pasif, melainkan dapat diajak menghasilkan konten baru berupa teks, gambar, musik, hingga video berdasarkan instruksi dan pola yang dipelajarinya.

Dalam sesi edukasi ini, Hady juga meluruskan perbedaan peran antara mesin pencari seperti Google dengan platform AI.

“Google membantu kita menemukan sumber atau halaman yang relevan, sedangkan AI membantu kita mengolah kebutuhan tersebut menjadi jawaban yang siap pakai,” jelas Hady.

Baca Juga

Sebagai gambaran, jika pada mesin pencari pengguna mengetik kata kunci “Cari resep ayam”, maka Google akan menyajikan tautan web. Sebaliknya, pada AI pengguna dapat memberikan instruksi spesifik seperti “Saya punya ayam, kecap, dan bawang. Buatkan resep untuk 4 orang,” dan AI akan mengolah bahan tersebut menjadi panduan resep praktis.

Ia menambahkan bahwa AI sangat fleksibel untuk membantu urusan domestik dan kegiatan sehari-hari, mulai dari mencari ide kado, menyederhanakan materi belajar, merapikan pesan teks, menyusun itinerary perjalanan, hingga merancang susunan acara dan pembagian tugas pengajian.

Hady mengungkapkan bahwa kegagalan atau ketidaksesuaian jawaban AI sering kali bukan terletak pada sistem AI itu sendiri, melainkan pada cara manusia memberikan instruksi (prompt).

“Masalahnya belum tentu AI-nya. Bisa jadi kita belum cukup jelas menjelaskan apa yang kita mau,” ujar Hady.

Ia juga menyarankan agar pengguna tidak perlu membuang waktu mencari prompt yang terlihat sempurna. “Mulailah dari kebutuhan nyata. Jika jawabannya kurang cocok, jangan mulai dari nol, lanjutkan percakapan dan berikan instruksi perbaikan,” imbuhnya.

Di akhir materi, Hady memberikan penekanan khusus terkait etika, keamanan data, dan batas tanggung jawab penggunaan AI. Ia mengingatkan peserta agar tidak mudah terbuai oleh jawaban AI yang terstruktur rapi.

“Jawaban yang terdengar meyakinkan bukan berarti jawaban pasti benar,” pesan Hady.

Ia menegaskan bahwa kendali penuh dan tanggung jawab akhir tetap berada di tangan manusia. Manusia berperan menentukan tujuan, memahami konteks, menilai hasil, dan mengambil keputusan; sementara AI berfungsi membantu memberikan ide, membuat draf, merangkum, serta memberikan alternatif sudut pandang.

“AI itu mudah. Kuncinya adalah tahu apa yang Anda butuhkan, lalu belajar bagaimana cara mengatakannya,” tutup Hady. []

Baca Juga