Soal Atribut Natal, Kemenag: “Perusahaan Jangan Paksakan Kehendak”

Kemenag-Kepala Pusat Kerukunan Beragama Kemenag RI-Mubarok-jpeg.image
Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kemenag Mubarok

JAKARTA (SALAM-ONLINE): Pada hari raya umat kristiani 25 Desember mendatang, umumnya perusahaan atau pusat perbelajaan memerintahkan karyawannya termasuk Muslim untuk mengenakan atribut natal saat bekerja.

Terkait itu, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama (Kemenag) Mubarok mengimbau perusahaan, baik non-Muslim pada Muslim maupun sebaliknya agar tidak memaksa karyawannya mengenakan atribut agama tertentu. “Bila karyawannya tidak bisa, sebaiknya perusahaan tidak memaksakan kehendak,” ujar Mubarok pada Republika Online (ROL) di Jakarta, Sabtu (6/12).

Mubarok mengatakan, peraturan mengenai agama dalam ketenagakerjaan sudah ada, namun hanya mengurusi persoalan ibadah saja. “UU nya seperti perusahaan atau majikan harus memberi waktu untuk beribadah para karyawan. Kalau UU untuk persoalan mengenakan atribut agama tertentu tidak ada,” lanjutnya.

Baca Juga

Namun, tambahnya, walaupun belum ada aturan terkait sanksi bagi perusahaan bila memaksa karyawannya untuk mengenakan atribut agama tertentu, salah satunya atribut natal itu, perusahaan harus bersikap bijaksana.

Perusahaan, tegasnya, tidak boleh memaksakan kehendak dengan aturan yang mengharuskan karyawannya mengenakan atribut agama tertentu yang tak sejalan dengan keyakinan yang bersangkutan. “Perusahaan jangan sampai memicu konflik kerukunan beragama,” ujarnya. (ROL)

salam-online

Baca Juga