Penarikan Pasukan Rusia dari Suriah Diragukan

Tentara Rusia di Lattakia, Suriah. (Foto: DailyMail)

SALAM-ONLINE: Perintah penarikan pasukan Rusia di Suriah oleh Presiden Vladimir Putin diragukan. Pada Maret 2016 lalu, Putin juga mengumumkan penarikan “lingkaran utama” tentaranya yang ditugaskan mendukung rezim Basyar Asad sejak 2015.

Namun, dalam bulan-bulan berikutnya, Moskow menggenjot kehadiran militernya lagi, sebelum mengumumkan “penskalaan” serupa pada akhir tahun lalu.

Seperti dalam kedua kasus tersebut, Putin mengatakan pada Senin (11/12/2017) bahwa pangkalan udara Khmeimim Rusia dan fasilitas angkatan laut Tartus akan melanjutkan operasi normal mereka.

Hal ini menyebabkan banyak orang meragukan arti penting pernyataan Putin soal tarik mundur militer Rusia tersebut.

“Ini bukan penarikan, karena Rusia menjaga pangkalan udara dan angkatan lautnya,” kata seorang analis politik Lebanon, George Alam, kepada Aljazeera.

BACA JUGA: RUSIA TARIK MUNDUR PASUKANNYA DI SURIAH

“Dan Putin mengatakan, ‘jika teroris kembali, kita akan menyerang mereka’,” ungkap Geroge Alam seperti dilansir Aljazeera, Rabu (13/12). “Jadi itu berarti kekuatan militer Rusia masih ada di Suriah. ”

Pasukan AS di Suriah

Alam mengatakan bahwa perintah Putin (terkait penarikan mundur tentara Rusia) itu mungkin memiliki tujuan yang berbeda: untuk mengirim pesan yang kuat ke AS.

Menggambarkan keputusan tersebut sebagai “politis”, Alam mengatakan bahwa ini adalah cara Rusia untuk meminta “masyarakat internasional agar menekan AS menarik pasukannya dari Suriah”.

Menurut Alam, Rusia terganggu oleh apa yang dilihatnya sebagai “kehadiran ilegal” pasukan AS.

Pekan lalu, Pentagon mengungkapkan bahwa ada sekitar 2.000 tentara AS di Suriah, empat kali lipat dari yang telah diakui ke publik sebelumnya.

Kolonel Rob Manning, juru bicara Pentagon, mengatakan tentara AS akan tetap berada di Suriah, bahkan saat pertarungan melawan ISIL/ISIS hampir berakhir.

“Amerika Serikat akan mempertahankan kehadiran militer berbasis kondisi di Suriah untuk memerangi perlawanan pimpinan oposisi, mencegah kebangkitan ISIS dan untuk menstabilkan daerah-daerah yang dibebaskan,” dalih Manning.

Rezim Suriah menuduh Washington datang dengan alasan untuk mempertahankan kehadiran di daerah timur laut yang dikuasai Kurdi.

Bulan lalu, Jim Mattis, sekretaris pertahanan AS, juga mengatakan negaranya “tidak akan pergi begitu saja” dari Suriah.

‘Pesan untuk Iran’

Rusia memulai intervensinya di Suriah pada September 2015, setelah rezim Basyar Asad meminta bantuan militer dari negara beruang merah tersebut untuk melawan kelompok pejuang oposisi.

Jumlah tentara Rusia di Suriah tidak diketahui, namun seorang pakar militer Rusia yang independen baru-baru ini mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa sebanyak 10.000 tentara dan kontraktor swasta dari Rusia berpartisipasi dalam perang tersebut.

Pada November 2017 lalu, Asad mengucapkan terima kasih kepada Putin atas dukungan Rusia untuk “menyelamatkan” negaranya.

Elie Hajj, seorang analis politik, mengatakan bahwa perintah Putin untuk penarikan sebagian tentaranya juga merupakan pesan untuk sekutunya sendiri, Iran, di tengah tekanan AS dan Zionis untuk mengekang pengaruh Teheran di wilayah tersebut.

BACA JUGA: BERTEMU ASAD, PUTIN PERINTAHKAN PASUKANNYA MULAI TARIK DIRI DARI SURIAH

“Pesan ke Iran adalah bahwa tidak ada kebutuhan bagi Anda untuk tinggal secara permanen di Suriah … tidak perlu memperluas kehadiran Anda lagi,” ungkap Elie Hajj menggambarkan pesan Rusia untuk Iran.

“Operasi militer besar sudah selesai dan inilah saatnya untuk mendapatkan solusi politik,” kata Hajj. (S)

Sumber: Aljazeera

Baca Juga