Sebuah Bangunan di Gaza Runtuh, 16 Orang Tewas, Puluhan Lainnya Terjebak di Reruntuhan

SALAM-ONLINE.COM: Sebuah bangunan di Gaza yang sebelumnya pernah dibombardir oleh pasukan “Israel” runtuh pada Rabu (16/9/2026), menewaskan sedikitnya 16 orang. Sementara puluhan lainnya masih terjebak di bawah reruntuhan, termasuk puluhan anak-anak.
Pertahanan Sipil Palestina, badan darurat dan penyelamatan Gaza, menyatakan bahwa bangunan hunian enam lantai di Jalan al-Sinaa, sebelah barat Kota Gaza, itu runtuh secara tiba-tiba saat para penghuninya sedang tidur..
Menurut keterangan warga, lebih dari 10 keluarga yang mencakup sekitar 80 orang tinggal di bangunan tersebut. Puluhan di antaranya adalah anak-anak.
Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan bahwa jenazah 16 orang, termasuk lima anak-anak, telah dievakuasi. Sementara lebih dari 25 orang lainnya berhasil diselamatkan dalam keadaan terluka.
Mahmoud Basal, juru bicara Pertahanan Sipil, mengatakan bahwa petugas darurat dapat mendengar suara orang-orang yang terjebak di bawah reruntuhan dan sedang berupaya semaksimal mungkin untuk menjangkau mereka.
Abdullah al-Majdalawi, direktur hubungan masyarakat dan media di badan Pertahanan Sipil Gaza, mengatakan bahwa tim penyelamat telah bekerja tanpa henti sejak peristiwa runtuhnya bangunan tersebut.
“Setiap korban yang kami evakuasi dari balik reruntuhan tampaknya sedang tidur di atas kasur. Mereka sedang tidur saat bangunan itu runtuh,” ujar Majdalawi seperti dilansir Middle East Eye (MEE), Rabu (16/9).
Namun, tim penyelamat kekurangan alat berat yang diperlukan untuk menjangkau mereka yang terjebak, mengingat sebagian besar peralatan di Gaza telah dihancurkan oleh penjajah “Israel” selama genosida berlangsung.
“Kami bahkan kekurangan peralatan yang paling dasar sekalipun,” kata Majdalawi.
“Pada saat-saat awal setelah bangunan runtuh, kami terpaksa meminta bantuan tetangga dan para pengungsi di sekitar lokasi untuk membawa palu, sekop, dan
peralatan lainnya karena parahnya kekurangan perlengkapan,” tambahnya.
Sabreen Nassir (33), seorang warga Palestina, pengungsi, yang tinggal di tenda dekat bangunan tersebut, mengatakan bahwa dua teman putrinya masih tertimbun reruntuhan.
“Putri-putri saya berdiri di sini, menyaksikan dan menunggu teman-teman mereka dikeluarkan,” ujar Nassir.
“Kami sudah bertetangga selama tujuh bulan.”
Talal al-Harazin (53), warga Palestina lainnya yang tinggal di tenda di dekat lokasi, mengatakan bahwa peristiwa runtuhnya bangunan itu terasa seperti “gempa bumi”.
“Sekitar pukul 03.10 pagi, seluruh bangunan itu runtuh. Hanya butuh waktu kurang dari 10 detik bagi bangunan tersebut untuk ambruk,” ungkapnya..
Harazin mengatakan ada sekitar 10 keluarga yang tinggal di gedung tersebut, termasuk keluarga Abu Ras, al-Swatri, Adas, al-Jaabari, al-Ajla, dan Saada. Keluarga terkecil terdiri dari sekitar 10 anggota, yang sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.
Harazin menyebutkan bahwa gedung itu memang sudah banyak yang retak akibat terkena serangan dan dibombardir “Israel”. Bahkan strukturnya sudah amblas sekitar tiga lantai ke dalam tanah. Namun, keluarga-keluarga tersebut tidak memiliki tempat tinggal lain.
“Sayangnya, kami memang menduga gedung itu akan runtuh. Orang-orang sudah memperingatkan mereka, tetapi mereka berkata, ‘Di mana lagi kami harus tinggal?'” ujarnya.
“Pecahan bangunan berjatuhan setiap hari. Baru kemarin batu-batu jatuh darinya, dan kami bilang gedung itu bisa runtuh. Dan pada malam harinya, gedung itu benar-benar runtuh.”
Di Ambang Bencana Nyata
Bangunan yang runtuh itu termasuk di antara sekitar 2.000 bangunan di seluruh Jalur Gaza yang berisiko runtuh akibat kerusakan yang disebabkan oleh serangan “Israel”.
Meskipun berbahaya, banyak dari bangunan tersebut masih dihuni oleh banyak warga yang tidak memiliki tempat berlindung lain.
Majdalawi mengatakan warga terpaksa menggunakan bangunan yang runtuh itu meskipun tahu kondisinya retak, karena mereka tidak punya tempat lain.
“Ini adalah situasi yang terus berulang. Bangunan yang berisiko runtuh berubah menjadi kuburan bagi penghuninya. Satu-satunya perbedaan hanyalah waktunya,” ia memperingatkan.
“Puluhan rumah telah runtuh, akibatnya puluhan orang tewas.”

Ia juga memperingatkan adanya risiko tambahan seiring dengan datangnya musim dingin.
“Kita kini berada di ambang bencana nyata menjelang musim dingin. Jika rumah portabel, karavan, dan material rekonstruksi tidak didatangkan ke Gaza, kita akan menyaksikan lebih banyak lagi bencana semacam ini.”
Menurut PBB, selama genosida “Israel” di Gaza, yang bermula setelah serangan yang dipimpin Hamas pada 2023, pasukan “Israel” merusak atau menghancurkan sekitar 90 persen unit hunian di wilayah tersebut.
Hampir seluruh populasi yang berjumlah 2,2 juta jiwa telah mengungsi di dalam wilayah sendiri selama perang berlangsung.
Sebuah laporan yang dirilis bulan lalu oleh Shelter Cluster, yang dipimpin oleh Norwegian Refugee Council (NRC), menemukan bahwa sekitar 1,98 juta warga Palestina di Gaza—atau 94 persen dari populasi—membutuhkan tempat tinggal dan bantuan kebutuhan dasar rumah tangga.
Kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani pada Oktober tahun lalu bertujuan untuk mengakhiri genosida “Israel” dengan cara menghentikan serangan terhadap warga Palestina, mengizinkan masuknya bantuan ke Gaza—termasuk material hunian—serta membuka jalan bagi rekonstruksi.
Namun, “Israel” berulang kali melanggar kesepakatan yang dimediasi oleh AS tersebut dengan melancarkan serangan hampir setiap hari, membatasi upaya rekonstruksi, dan menghalangi masuknya sebagian besar bantuan yang dibutuhkan di Gaza, termasuk material hunian. (af)