BAD 2026 Kota Bekasi Ingatkan Spirit Pemuda Muhammadiyah Adalah Gerakan Amar Makruf Nahi Mungkar
SALAM-ONLINE.COM: Baitul Arqam Dasar (BAD) 2026 Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kota Bekasi kembali menegaskan pentingnya perkaderan sebagai proses pembentukan generasi muda Islam yang memiliki keteguhan ideologi, kemampuan kepemimpinan, dan komitmen menjalankan dakwah amar makruf nahi mungkar.
Penegasan tersebut mengemuka dalam materi Sistem Perkaderan Pemuda Muhammadiyah yang disampaikan Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bogor, Muhammad Jatnika Pamungkas, pada kegiatan BAD 2026 di Sekolah Alam Islami Muhammadiyah, Pondokgede, Kota Bekasi.
Kegiatan perkaderan yang berlangsung pada 30 Oktober hingga 1 November 2026 tersebut diikuti 46 peserta dari berbagai cabang dan ranting Pemuda Muhammadiyah se-Kota Bekasi.
Dalam pemaparannya, Jatnika menegaskan bahwa kader bukan sekadar anggota yang tercatat secara administratif dalam sebuah organisasi. Kader merupakan individu yang dipersiapkan untuk memegang peran penting, menjaga kesinambungan kepemimpinan, sekaligus menjadi penggerak utama dalam mewujudkan tujuan organisasi.
Menurutnya, kader adalah sekelompok manusia terlatih yang menjadi inti atau tulang punggung dari sebuah kelompok yang lebih besar dan terorganisasi secara permanen.
Oleh karena itu, proses perkaderan tidak boleh dipahami sebatas kegiatan formal atau persyaratan administratif untuk memperoleh status keanggotaan. Perkaderan harus menjadi proses pembentukan karakter, penguatan pemahaman ideologi, serta peningkatan kapasitas kader dalam menghadapi tantangan kehidupan masyarakat.
Jatnika menjelaskan bahwa seorang kader Pemuda Muhammadiyah dituntut memiliki peran multifungsi, yakni sebagai penggerak, inspirator, motivator, konseptor, sekaligus eksekutor.
Sebagai penggerak, kader harus mampu menghidupkan aktivitas organisasi dan menggerakkan masyarakat menuju perubahan yang lebih baik. Sebagai inspirator dan motivator, kader dituntut menjadi teladan serta menumbuhkan semangat kolektif di lingkungannya.
Sementara itu, sebagai konseptor dan eksekutor, kader harus mampu merumuskan gagasan, menyusun strategi, dan menerjemahkan cita-cita organisasi menjadi program serta tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Lebih lanjut, Jatnika mengingatkan bahwa spirit perkaderan Muhammadiyah memiliki landasan teologis yang kuat, salah satunya sebagaimana terkandung dalam Al-Qur’an surah An-Nisa ayat 9.
Ayat tersebut mengingatkan pentingnya tanggung jawab antargenerasi agar tidak meninggalkan generasi penerus dalam keadaan lemah.
Dalam konteks perkaderan, pesan tersebut menuntut organisasi untuk terus mempersiapkan generasi penerus yang kokoh secara akidah, matang dalam karakter, memiliki kapasitas intelektual, dan mampu melanjutkan perjuangan dakwah Islam.
Jatnika juga menegaskan kembali identitas Pemuda Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi otonom Muhammadiyah yang mengemban misi gerakan Islam, dakwah amar makruf nahi mungkar.
Menurutnya, keberadaan Pemuda Muhammadiyah bertujuan menghimpun, membina, dan menggerakkan pemuda Islam serta meningkatkan perannya sebagai kader untuk mencapai tujuan Muhammadiyah.
Dengan demikian, keberhasilan perkaderan tidak cukup diukur dari jumlah peserta atau terselenggaranya kegiatan, tetapi juga dari kemampuan para kader untuk menginternalisasikan nilai-nilai Islam dan menghadirkan perubahan positif di tengah masyarakat.
Membangun Kader yang Istiqamah dan Berakar di Masyarakat
Senada dengan hal tersebut, Ketua PDPM Kota Bekasi, M. Rizano Marsop, mengajak seluruh kader untuk terus istiqamah dalam perjuangan Muhammadiyah.
Rizano menekankan bahwa kader Pemuda Muhammadiyah perlu membangun semangat kolaborasi, tumbuh bersama, dan memperkuat akar gerakan dalam kehidupan masyarakat.
Pesan tersebut menjadi penting agar Pemuda Muhammadiyah tidak hanya berkembang sebagai organisasi kepemudaan secara struktural, tetapi juga memiliki kekuatan sosial dan kontribusi nyata bagi kehidupan agama, bangsa, dan negara.
Dalam konteks itu, perkaderan merupakan investasi jangka panjang gerakan Muhammadiyah untuk melahirkan generasi pemimpin yang berintegritas, memiliki wawasan keislaman dan kebangsaan, serta mampu merespons berbagai persoalan umat.
Sementara itu, Ketua Panitia BAD 2026, Muhamad Raffti Rabbani, menilai antusiasme peserta menjadi salah satu indikator positif dalam pelaksanaan perkaderan tahun ini.
Ia menjelaskan bahwa para peserta memperlihatkan keingintahuan yang tinggi terhadap berbagai aspek kemuhammadiyahan. Proses pembelajaran juga berlangsung secara partisipatif karena para peserta tidak hanya menerima materi, tetapi saling bertukar pengetahuan dan pengalaman berorganisasi.
“Peserta sangat antusias untuk memperoleh pengetahuan tentang bermuhammadiyah, bukan saja dari satu aspek, tetapi dari banyak aspek, mulai dari pemahaman umum hingga hal-hal yang lebih spesifik mengenai organisasi Muhammadiyah,” ujar Raffti.
Menurutnya, semangat peserta turut membantu kelancaran seluruh agenda kegiatan yang telah dipersiapkan panitia.
Raffti berharap pelaksanaan Baitul Arqam Dasar dapat menjadi awal terbentuknya jejaring kader yang semakin solid di lingkungan cabang dan ranting Pemuda Muhammadiyah se-Kota Bekasi.
Ia juga mendorong seluruh peserta agar mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh dalam aktivitas dakwah, kegiatan sosial, dan penguatan organisasi di wilayah masing-masing.
“Harapan kami, setelah kegiatan ini para peserta dapat menerapkan apa yang sudah diperoleh selama BAD di tengah masyarakat maupun di lingkungan Pemuda Muhammadiyah. Semoga kekompakan dan silaturahmi yang telah terbentuk terus terjaga,” katanya.
Baitul Arqam Dasar 2026 merupakan agenda perkaderan sekaligus rekrutmen anggota yang diselenggarakan PDPM Kota Bekasi untuk memperkuat pemahaman ideologi, nilai-nilai keislaman, dan visi kemuhammadiyahan.
Melalui kegiatan tersebut, Pemuda Muhammadiyah Kota Bekasi diharapkan semakin mampu melahirkan kader-kader yang tidak hanya aktif secara organisatoris, tetapi juga memiliki kesadaran bahwa gerakan amar makruf nahi mungkar harus diwujudkan melalui keteladanan, pengabdian, kepemimpinan, dan kerja nyata di tengah masyarakat. (fjr)



