Mayoritas Warga Yahudi Amerika Berpendapat: ‘Israel’ dan AIPAC Memicu Antisemitisme

Terakhir Diperbarui
Bilik suara di sebuah tempat pemungutan suara di Manchester, New Hampshire, AS (AFP)

SALAM-ONLINE.COM: Menurut sebuah jajak pendapat terbaru, sebagian besar warga Amerika keturunan Yahudi berpendapat bahwa tindakan “Israel” dan American “Israel” Public Affairs Committee (AIPAC) justru meningkatkan antisemitisme (kebencian & permusuhan terhadap Yahudi) di Amerika Serikat.

Jajak pendapat yang dilakukan oleh J Street—sebuah lembaga pemikir pro-“Israel” yang berbasis di AS—ini menunjukkan kesenjangan yang lebar antara pandangan para pemilih Yahudi Amerika terhadap organisasi seperti AIPAC serta pendudukan “Israel” di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Dilansir dari Middle East Eye (MEE), Jumat (6/11/2026),  jajak pendapat tersebut mengungkapkan 66 persen pemilih Yahudi di AS meyakini bahwa pengeluaran dana kampanye AIPAC untuk melawan kandidat yang mengkritik “Israel” justru meningkatkan antisemitisme di negara tersebut.

Selain itu, 60 persen responden meyakini bahwa organisasi-organisasi Yahudi yang melabeli kritik keras terhadap “Israel” sebagai antisemitisme sebenarnya sedang mengeksploitasi kekhawatiran mengenai antisemitisme demi membela kebijakan “Israel” yang tidak populer.

Yang patut dicatat, 80 persen pemilih Yahudi berpendapat bahwa tindakan “Israel” di wilayah pendudukan Tepi Barat dan Jalur Gaza turut meningkatkan antisemitisme di Amerika Serikat.

“Pandangan umum mengenai kekhawatiran masyarakat Yahudi terhadap antisemitisme, serta apa artinya mendukung “Israel”, sering kali meleset dalam memahami bagaimana orang Yahudi menyikapi isu-isu tersebut dalam konteks politik Amerika,” ujar Jim Gerstein, mitra pendiri GBAO Strategies—lembaga yang mengadakan jajak pendapat tersebut antara 28 Oktober hingga 3 November.

“Kenyataannya, masyarakat Yahudi memiliki pemikiran yang bernuansa mengenai isu-isu ini; sesuatu yang sering kali luput dari liputan media yang luas tentang komunitas Yahudi,” tambahnya.

Pemilu paruh waktu (midterm elections) di Amerika Serikat ditandai dengan kemenangan telak Partai Demokrat, di mana isu mengenai perang AS terhadap Iran dan dukungan AS terhadap “Israel” memainkan peran sentral dalam kontestasi politik, seperti yang terjadi di Michigan.

Abdul El-Sayed, seorang Muslim (kandidat dari Partai Demokrat), memenangkan pemilihan di wilayah Michigan dengan kemenangan telak. Ia mengalahkan kandidat dari Partai Republik, Mike Rogers, yang didukung oleh AIPAC.

Sayed, yang dalam kampanyenya mengusulkan pemotongan bantuan AS untuk “Israel” dan negara-negara Timur Tengah lainnya, serta mengecam genosida “Israel” di Gaza, berhasil meraih 60 persen suara dari pemilih Yahudi dalam pemungutan suara awal, demikian menurut jajak pendapat yang dilakukan oleh Mercury Public Affairs.

Jajak pendapat tersebut juga menunjukkan bahwa Zohran Mamdani—yang sempat difitnah sebagai seorang antisemit—memiliki tingkat kesukaan yang lebih tinggi di kalangan warga Amerika keturunan Yahudi, yakni 49 persen, dibandingkan dengan Perdana Menteri penjajah “Israel'” yang akan segera lengser, Benjamin Netanyahu, yang hanya memperoleh 20 persen.

Secara keseluruhan, jajak pendapat dari GBAO Strategies menemukan bahwa 72 persen pemilih Yahudi mendukung kandidat dari Partai Demokrat, dan 76 persen mendukung penerapan sanksi terhadap “pemukim ‘Israel’ yang melakukan kekerasan di Tepi Barat”.

Presiden J Street menyatakan bahwa hasil jajak pendapat ini membuktikan keliru-nya stereotip mengenai pemilih Yahudi di Amerika Serikat.

“Selama siklus pemilihan ini, warga Amerika keturunan Yahudi sering dijadikan komoditas politik. Para politisi dan komentator bersikeras bahwa komunitas kami menuntut dukungan tanpa syarat bagi ‘Israel:. Hasil jajak pendapat ini menunjukkan kenyataan yang sangat berbeda,” kata Jeremy Ben-Ami.

“Mayoritas besar pemilih Yahudi mendukung Partai Demokrat, sangat menentang Presiden Trump, dan mendukung upaya untuk meminta pertanggungjawaban rezim penjajah “Israel” atas tindakan-tindakannya. Mereka menginginkan kepemimpinan Amerika yang mampu mendorong perdamaian dan keamanan, baik bagi rakyat ‘Israel” maupun Palestina. Mereka juga menolak gagasan bahwa mendukung ‘Israel’ berarti memberikan cek kosong kepada rezim tersebut,” tambahnya. (is)

▲